Ikatan yang salah
Ikatan yang salah
Matahari masih tampak malu untuk memperlihatkan sinar terangnya. Juga ada sedikit ragu, karena tertutup awan kelabu. Aku sama sekali tidak ingin beranjak dari ranjang tidur ternyaman ini, sambil memperhatikan hitam putih foto kita dalam album kenangan yang masih kujaga sepenuh hati. Mungkin aku sama seperti matahari saat ini, namun matahari itu tidaklah sama dengan kamu yang begitu percaya dirinya menghampiri dan menunjukkan sinar terangmu kepadaku.
kalau waktu memang bisa aku putar kembali, aku memilih untuk mendesakmu saja untuk berbicara. ketimbang aku hanya diam dan mematung seperti orang yang tak punya rasa. padahal hati ini tertusuk begitu dalamnya.
Sejauh ini aku masih bisa menerima, tapi kenapa lama kelamaan batin ini seperti tersiksa. bukan hanya memikirkan diri sendiri, tapi juga dia, dan kamu.
Aku tidak pernah ada keraguan untuk tetap hidup bersamamu, tapi apakah mungkin aku melawan takdir, yang tak seirama dengan keadaan untuk terus mempertahankan cinta yang seharusnya telah hancur lebur.
***
"Maaf. Bukan aku ingin pergi, tapi aku harus menurut semua keinginan yang mungkin diluar nalar dan pikiran." Ucap Sam dengan lirih. Menyentuh halus pipi kananku dengan jari-jemarinya yang terasa begitu lembut.
"Apa maksudmu, Sam?" Tanyaku seperti tak kuasa menahan air mata, hanya dengan sepatah kata pergi yang keluar dari lidahnya.
"Sebenarnya, aku tidak pernah sanggup mengatakan ini padamu. tapi, aku lebih tidak sanggup melihatmu terluka."
"Sam,"
"Hemph," Sam menarik nafas dalam-dalam. "Tidak Nevia, kedua hal itu memang tidak sanggup aku lakukan. tapi, besok adalah hariku." Ujar Sam dengan begitu tegas, seketika berlari meninggalkan aku sendiri yang masih sama sekali tidak mengerti.
"Sebenarnya ada apa Sam?"
"Sam!!!" Teriakku sekali lagi. Tapi Sam sama sekali tidak menoleh. Dia tetap pergi meninggalkanku sendiri.
Aku tetap mematung disini. lidahku terasa keluh, bola mataku berkaca-kaca hingga akhirnya air mata ini jatuh juga, kelopak mataku seperti tak sanggup menahan derasnya gejolak rasa sedih yang begitu menyakitkan.
***
Kenangan itu seperti tak pernah pergi dari memori kepala ini. Apa sebenarnya yang aku lakukan, sudah jelas ini sebuah kesalahan. Tapi kenapa tetap saja aku pertahankan.
"Tok,tok,tok." Terdengar ketukan pintu yang begit nyaring.
Aku beranjak dari ranjang tidur, pergi keruangan depan untuk membuka pintu.
"Sam?"
"Cuaca hari ini mendung banget. untung aku ga kehujanan. tapi aku sedikit ngerasa dingin kena gerimis." Jawab Sam sambil membawa kotak makanan yang mungkin dia sengaja belikan untukku sarapan.
"Yaudah kamu masuk dulu."
Sam langsung masuk dan menaruh kotak makanan itu di meja makan. Mengambil handuk dan mengusap-usapkan kepalanya yang sedikit basah terkena gerimis.
"kamu kenapa datang terus kesini sih, Sam!"
"kenapa kamu selalu marah setiap aku datang kesini?"
"Sam! tentu aku marah, kamu itu.."
"Sstt." Desis Sam, tiba-tiba saja dia memelukku begitu erat. mungkin dengan ini aku tidak akan sanggup lagi untuk marah ataupun berkata dengan nada keras sedikitpun.
***
"Maaf aku pergi begitu lama."
"Sam?"
"Nev, aku pernah mengatakan kalau aku tidak akan sanggup melihatmu terluka. Maafkan aku, aku pergi begitu lama meninggalkanmu. tapi hati ini masih tetap rindu akan kebersamaan yang menurutku begitu indah hanya kalau denganmu."
"Kamu meminta maaf semudah itu, Sam!" Kataku sambil memukul-mukul dada Sam.
"Nev, dengar aku."
"Apalagi! Apalagi!! hati ini sudah bukan untukmu."
"Kamu bohong. Nev." Sam mendekapkan kedua tangannya ketubuhku. aku larut dalam kehangatan dekapannya diiringi isakan tangis yang masih tak kuasa aku hentikan.
***
Setiap momen bersama Sam seperti terekam di kepala ini, kepergian Sam yang begitu tiba-tiba juga kehadirannya kembali kehidupku yang membuat aku sendiri merasa tak percaya. Semua tentangnya sulit sekali hilang dan aku lupakan.
"Lepas aku, Sam."
"Nev, aku mencintaimu! aku mohon untuk tidak pergi dan memintaku menjauh." Pinta Sam begitu terasa nyata akan rasa sayangnya yang besar kepadaku.
"Sam! aku pun mencintaimu. bahkan, bahkan saat kamu pergi meninggalkan aku. hati ini tidak pernah sekalipun luput dari memikirkan kamu."
"Nev, aku memang pergi. Tapi aku punya alasan kuat. Saat itu, hariku memang sudah tiba. aku sama sekali tidak sanggup untuk mengatakan hal itu kepadamu."
"Mengatakan kalau esok hari kau akan menikah! begitu, Sam!" Tegasku dengan begitu marahnya.
"Aku tidak pernah sekalipun mencintai dia. Kiara pilihan ibu, pilihan keluargaku!"
"Lantas untuk apa kamu selalu kesini, Sam! sudah hampir satu tahun kita saling mencintai namun dalam sebuah ikatan yang salah. kau sudah miliknya. aku tidak bisa terus bertahan seperti ini. mungkin ini saatnya untuk aku benar-benar pergi darimu"
"Aku gabisa, Nevia."
"Aku juga gabisa untuk terus melanjutkan hubungan sama orang yang sudah menikah, Sam. Selama ini aku udah melakukan kesalahan!
Aku memeluk Sam, mungkin ini untuk yang terakhir kalinya. Aku harus benar-benar berjanji pada diriku sendiri untuk melupakan Sam. Jika tidak bisa, aku harus selalu ingat bagaimana hancur dan sakitnya perasaan Kiara jika tau Sam selalu pergi menemuiku.
Hatiku memang masih tersimpan nama Sam. kenangan yang diberikan Sam juga tidak akan hilang sampai kapanpun. tapi otak dan pikiran ini menolak untuk terus bersama Sam. karena logika ini tau, tidakklah mungkin aku terus bersama dengan seseorang yang telah menikah.

Komentar
Posting Komentar