Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Kembali Asing

Kalau saja ada cara agar aku bisa mengetahui segala isi hatimu. Mungkin akan aku lakukan apapun itu, agar aku tetap bisa melihat lekuk senyum indahmu. kamu pernah mengatakan aku lah yang paling mengerti kamu, aku adalah orang yang tidak pernah menyakitimu, Selalu ada untuk menjadi seseorang yang selalu menerima keluh kesahmu. Tapi dari semua itu, menurutku kamu salah besar. Sebab apa? Kalau aku seperti apa yang kamu sebutkan itu. Seharusnya kamu dan aku sudah bersama. Menjadi kita. Dan merangkai bahagia untuk masa depan yang selalu aku impikan indah jika kita berdua. Tapi kenyataannya? Aku tidak pernah tahu apa yang benar-benar kamu rasakan. Perasaan apa yang kamu simpan. Juga kamu pun tidak pernah tahu sesakit apa aku, yang berusaha menerjang keras keadaan. Kini, hanya ada rasa sesal terpendam. Entah aku yang terlalu cepat menyerah atau memang kita yang sudah di takdirkan berpisah. Karena hal itu, Aku kini menjadi seseorang yang pandai berangan, seolah waktu mampu kuputar balika...

IBU

IBU. Berbicara tentangnya adalah hal terindah yang selalu aku rasakan. Tidak tahu lagi ungkapan rasa sayang yang seperti apa yang aku bisa luapkan untuknya. Sebab, begitu besar dan dalamnya hingga diri ini tidak bisa berkata-kata. Mungkin jika ditanya siapa wanita terbaik yang pernah ada dalam hidupku sudah jelas aku akan menjawabnya "IBU". 2017. Tahun-tahun sebelumnya yang aku tahu hanyalah hidup berjalan selalu sebagaimana semestinya. Namun kebahagiaan yang selama ini ada di keluarga seolah hancur begitu saja. Bukan karena kehilangan harta, atau juga hal-hal materi lainnya. Melainkan karena kondisi ibu yang jatuh sakit tiba-tiba. Perasaan sedih sudah pasti datang menghampiri. Rasa takut juga marah terhadap diri sendiri begitu menguasai. Sosok terhebat dalam hidupku sedang berjuang dalam keadaan lemah melawan sakitnya. Aku berharap pada Tuhan. Dalam sakitnya dia selalu diberi kekuatan, juga menjadi penggugur segala dosa yang dia perbuat di dunia. Dalam kondisi sepert...

Aku yang berusaha menetap, dari kamu yang tidak pernah menganggap.

Menyingkirkan sebuah perasaan lelah bukan suatu hal yang mudah. Terlebih mencoba menutupinya agar tetap terlihat bahagia. Kamu tidak pernah tahu seberapa berjuangnya aku hanya untuk mendapatkan seutas senyum darimu. Tidak pernah tahu betapa sunyi dan hampanya malam tiba, tanpa pernah ada kata manja, seperti yang selalu aku utarakan agar bisa membuat kamu ceria. Aku hanya berjuang sendirian. Tanpa kamu pernah perhatikan. Tapi tidak apa, Aku terus mencoba baik-baik saja. Karena kebanyakan cinta berawal dari sebuah rasa yang dulunya sempat terabaikan. Namun di sesalkan begitu seseorang yang berjuang pergi meninggalkan. Karena lelah yang sudah keterlaluan. Tapi tenanglah. Aku tidak akan pergi selelah apapun meninggalkan kamu sendirian. Aku mungkin menghibur diriku sendiri dengan mengatakan tenanglah. Karena aku tau kamu juga tidak akan pernah perduli, dan bahkan ada tiadanya diriku kamu tidak pernah menyadari. Aku menganggap kamu rumah. Tempat aku kembali disaat aku benar-benar le...

Pesan yang aku buat untukmu.

Pesan yang aku buat untukmu. Mulai mengagumi seperti awal dari  kisah yang terus berlanjut hingga kini. Aku tidak mengerti kenapa saat itu aku benar-benar tenggelam ke dalam tatap matanya, yang padahal dia sama sekali tidak melirik aku. Aku mengenalinya, tapi hanya sekedar tahu nama. Sebab aku tidak berani menegur apalagi mengajaknya bicara.  Aku mengira dia sudah tahu aku yang mana, mengenali aku juga, bukan hanya sekedar pernah mendengar nama. Ternyata aku salah. Dia hanya tahu namaku, tapi dengan orang yang berbeda. Beruntungnya, aku beranikan diri untuk mengirim pesan. Seketika dia membalas dan bertanya "Memang kalau di kelas kamu yang mana sih?" Hal lucu yang aku anggap dia menjadi benar-benar begitu lugu. Penuh rasa ragu, aku mengirim foto yang kuanggap tampilan wajahku paling meyakinkan. Agar dia benar-benar menyadari kalau aku ingin berkenalan. Semua perihal tentang kamu, kini menjadi sebuah hal yang selalu aku cari-cari. Aku sedikit lebih tenang. Kita su...

Cinta, Kasta dan Keyakinan

Cinta, Kasta dan Keyakinan. Pada kenyataannya, kesetiaan tidak selamanya bisa berbicara banyak. Perbedaan seolah menjadi penghalang saat diri berkeingingan besar menentukan masa depan. Juga harta dan tahta seolah penentu akhir dari sebuah arti kebahagiaan. Kalau saja kita bisa memilih, tentu ingin terlahir dari keluarga yang kaya raya. Memiliki segala halnya dengan mudah, namun apakah itu kebahagiaan yang sebenarnya? Soal cinta, tentu kita ingin memiliki pasangan yang baik, yang seirama dengan kita. Yang selalu menerima dan saling melengkapi setiap sisi lemah diri. Namun apa benar ada pasangan yang sejatinya benar-benar sempurna? Cinta itu indah. Yang jika seharusnya cinta tidak mengenal beda atau kasta. Tapi akan berbeda jika kedua hal itu menjadi penentunya. Yang pada akhirnya arti itu akan berubah, Cinta ialah luka. Saat ini, sepertinya aku harus rela membuang sedikit masa mudaku. Dalam artian, yang mana kebanyakan teman-temanku saat ini sedang menikmati masa-masa muda deng...

Hidup adalah Judulnya.

AKU. Lelaki yang tidak memiliki materi berlebih. Tidak sama sekali ada ketampanan dalam diri. Apalagi popularitas yang menghiasi hidup ini. Tetapi, aku merasa cukup. Tidak ingin berputus asa. Betapapun kerasnya ujian hidup yang menerpa. Sebab, aku ingin belajar apa itu arti bersyukur yang sesungguhnya. Keluarga. Teman. Kekasih? hem, mungkin karena mereka semua. Tapi yang utama. adalah jalan indah Tuhan yang maha Esa. Membuat hidup bisa bertahan sejauh dan sebahagia ini. Pernahkah kalian merasa hidup ini berat? Pernahkah kalian merasa hidup ini tidak adil? Pernahkah kalian merasa kesulitan yang ada dalam hidup kalian adalah yang terberat? Tanpa menunggu jawaban kalian, dengan lantang aku sendiri pun akan menjawab iya. Tapi, apakah yang terjadi benar demikian. Kalau memang seperti itu, siapakah yang salah? Atau siapakah yang harus disalahkan? Mungkin jawabannya tidak ada. Kenapa? Karena... Sore, 29 Desember 2015. Ketika itu, Kehancuran seperti datang menimpa tanpa pernah member...

Tidak Ada Kata Gagal

Matahari pagi telah hadir menyinari. Datangnya seolah membuat hati sepi terhibur kembali. Mungkin tetapi, pagi ini tidak akan seceria biasanya. Sebab aku dan kamu yang gagal untuk merajut kisah. dengan sebuah kata 'Tidak' yang seketika menghancurkan segalanya. Langit biru seolah menjadi semangat tatkala aku membuka kaca jendela. Pikiranku tenang sesaat. Ya! tetapi hanya sesaat. Tatkala aku memalingkan wajahku ke sudut kamar, bola mata ini langsung terpaku akan foto indahmu yang terpampang tegak di meja belajarku. Foto yang dengan sengaja aku cetak, yang dimana jikalau aku rindu kamu. Aku bisa dengan cepat melihat wajahmu. Sebenarnya, aku juga tidak mengerti kenapa perasaan ini tumbuh begitu cepat. Ya meski tidak secepat kilat, tetapi berhasil membuat hati terasa terikat. Menurutku, aku telah gagal. Ini sangat tidak nyaman. Tapi aku tidak mungkin membiarkan, sebab kehidupan harus terus berjalan. Amarahku tidak terkendali, tapi dengan sekuat tenaga aku kontrol agar tidak sema...

Tujuh Hari Menulis Untukmu.

"Jika suatu saat, ada waktu dimana aku harus pergi. Aku meminta, agar kamu tetap disini menungguku kembali ya." Dia tersenyum, sambil memandang wajahku. "Memangnya? Kamu mau kemana sih.." Aku tidak bisa menjawab. Karena tanpa dasar apapun, aku tiba-tiba ingin mengatakan hal itu. Entah karena ingin selalu bersamanya atau hal lain. Saat itu, hembusan angin begitu kencang menerpa wajahku dan dia. Juga suara desir ombak yang tidak mau kalah menemani suasana haru aku dan dia yang tengah duduk meluruskan kaki dipinggir pantai. Kumenoleh kepadanya sekali lagi. Wajah cantik itu memang selalu membuatku tersenyum. Membuat bola mata ini tidak ingin sedetikpun luput memandanginya. Mungkin juga, kalau pun nanti aku harus kehilangannya. Apa sanggup aku untuk tidak memandangi wajahnya sekali saja meski dalam bentuk fotonya. "Ya aku bertanya saja." Ucapku tertawa. "Jangan pernah bicara seperti itu kalau hanya ingin menguji kesetiaanku. Memangnya, menuru...

Dusta Berakhir Duka

Aku begitu berupaya untuk kita tetap bersama. Meskipun, engkau telah berulang kali meminta untuk berpisah. Aku tidak pernah lelah berusaha untuk mencoba menyatukan lagi aku dan kamu menjadi kita. Tetapi, terkadang aku berpikir bagaimana bisa aku mencoba membohongi diriku sendiri untuk kedua kalinya, menyakiti dia untuk kedua kalinya. Bahkan menyakiti kamu, Dan dia (Juga). Secangkir teh menenangkan aku. Secangkir kopi menenangkan kamu. Aku tidak mengerti angan kita larut kemana saat itu. Sampai bisa sejauh ini melangkah. Aku suka manisnya teh hangat ini. Kamu suka pahitnya kopi hitam itu. Aku lelaki yang terpuruk dalam sepi. Dan kau wanita yang bahagia akan kepastian menikah. Sepi dan bahagia. Dua hal yang berbeda. Tetapi seolah kusatukan semuanya. Seolah menganggap kita sama. Hanya karena aku ingin berpikiran kau juga kesepian. Aku. Aku adalah cinta yang terpendam jauh, jatuh dalam luka. Kamu. Kamu adalah rindu yang coba berniat baik untuk bantu melalui kedatangan yang menghad...

Kebahagiaanmu, Penting untukku.

Kebahagiaanmu, Penting untukku. "Aku bukan lagi orang yang pantas kau tunggu." Tegas Zelia.  Aku terus terdiam memegangi ponsel yang tertempel di telingaku. Entah hal apa yang membuatnya meneleponku lagi, setelah lebih dari tiga tahun ini kita sudah tidak lagi saling bercengkrama. Meski hanya sekedar bertegur sapa. Ataupun menelepon untuk bertanya kabar berita. Aku tau dia jauh disana. Tapi sejak saat itu, aku menyesal karena tidak sekalipun mengatakannya. Juga kembali untuknya. ( untuk sekedar menghapus air mata yang terjatuh karena besarnya egoku. ) "Sampai sekarang ini, aku tetap seperti ini kan? Meski kau tidak pernah aku miliki, setidaknya kau tau bahwa aku mencintaimu." "Tidak ! Tidak lagi. Cukup sampai disini. Aku sudah mempersiapkan pernikahan dengannya." "Selalu mencintaimu, sudah berarti besar untukku." Ucapku dengan begitu lantang. Ponselku tetap kugenggam erat, meski dengan perasaan begitu sedih. Juga hati yang terasa t...