Pesan yang aku buat untukmu.

Pesan yang aku buat untukmu.

Mulai mengagumi seperti awal dari  kisah yang terus berlanjut hingga kini. Aku tidak mengerti kenapa saat itu aku benar-benar tenggelam ke dalam tatap matanya, yang padahal dia sama sekali tidak melirik aku. Aku mengenalinya, tapi hanya sekedar tahu nama. Sebab aku tidak berani menegur apalagi mengajaknya bicara. 

Aku mengira dia sudah tahu aku yang mana, mengenali aku juga, bukan hanya sekedar pernah mendengar nama. Ternyata aku salah. Dia hanya tahu namaku, tapi dengan orang yang berbeda. Beruntungnya, aku beranikan diri untuk mengirim pesan. Seketika dia membalas dan bertanya "Memang kalau di kelas kamu yang mana sih?" Hal lucu yang aku anggap dia menjadi benar-benar begitu lugu. Penuh rasa ragu, aku mengirim foto yang kuanggap tampilan wajahku paling meyakinkan. Agar dia benar-benar menyadari kalau aku ingin berkenalan.

Semua perihal tentang kamu, kini menjadi sebuah hal yang selalu aku cari-cari. Aku sedikit lebih tenang. Kita sudah saling mengenal, dan kini resmi menjadi teman. Waktu terasa menjadi begitu cepat. Kita mulai saling berbalas pesan, menelpon hingga berjam-jam. Kenyataannya, bersamamu begitu nyaman. Aku tidak tahu apa ini perasaan cinta yang mulai hadir kembali. Atau hanya bahagia yang lewat sebentar saja. Satu kata yang selalu kuingat darinya, aku harus menikmati prosesnya. Yang terbesit di otakku tat kala dia mengatakan itu hanya ada satu, apakah yang dia maksud adalah proses kita untuk bisa saling lebih mengenal?

Aku menepuk dahi beberapa kali, dengan dalih menyadarkan diri dari khayalan yang aku buat sendiri. Kalau memang itu cinta, akan aku pastikan agar dia bisa bertahan dengan aku selamanya. Jika hanya sekedar kesenangan sementara, akan aku perjuangkan agar dia menjadi milikku seutuhnya.

Ternyata, memikirkannya membuat cemas-cemas datang tanpa diundang. Memikirkannya membuat pipi kanan-kiriku pegal karena tidak berhenti senyum seketika aku melihat fotonya di social media. Cinta yang dibuatnya seperti memiliki mantra yang begitu mujarab, membuat aku terperangkap. Mungkin ada baiknya kita mulai untuk saling beranikan diri nantinya saling melempar senyum. Bercengkrama secara langsung tidak lagi lewat sambungan telepon yang terkadang sinyalnya putus nyambung.

Aku mulai menemukan jalan keluar, dari sebuah luka yang membenamkan cinta pada titik terjenuh yang membuatku begitu rapuh, terpuruk dan jatuh.  Hingga takut untuk memulai sebuah perasaan yang baru. Kamu tidak harus memaksakan diri menerimaku. Memaksakan dirimu untuk bisa dekat denganku. Memaksakan keadaan agar kita bisa benar-benar saling nyaman. Karena aku ingin benar mengenal kamu lebih dekat lagi. Tidak terburu-buru agar saling cinta, yang nantinya malah cepat berpisah.

Kalau pertama aku sudah begitu luluh akan tatapannya saja, mungkin saat ini yang aku rasakan aku sepenuhnya tenggelam karena berhasil mendapatkan sebuah senyuman yang kamu berikan. Tidak apa, Jikapun sulit bernafas akan aku terima. Karena aku ingin menjadi seseorang yang tangguh yang bisa menjaganya. Dengan setia ada disaat dia sulit, dan mengingatkan dia saat sedang bahagia agar tidak terlena. Sebab dunia berputar.

Pagi menjadi sebuah awal untuk aku memikirkan kamu. Sedang siang menjadi bahagiaku karena diperhatikan dengan begitu besarnya olehmu. Dan saat malam tiba, aku akan berdoa agar kamu benar-benar bisa ada mengisi segala ruang hampa. Menjadi cinta yang selama ini aku harapkan datang tidak diduga. Dan menjadi hal terindah yang aku tatap lebih dari senja. Karena, Pesan yang aku buat dengan cinta, hanya khusus untuk kamu semata.

Terimakasih.

Muhammad Septiaji.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekilas Tatapan.

Jatuh Cinta Tidak Hanya Lewat Mata

Kebahagiaanmu, Penting untukku.