Cinta, Kasta dan Keyakinan
Cinta, Kasta dan Keyakinan.
Pada kenyataannya, kesetiaan tidak selamanya bisa berbicara banyak. Perbedaan seolah menjadi penghalang saat diri berkeingingan besar menentukan masa depan. Juga harta dan tahta seolah penentu akhir dari sebuah arti kebahagiaan.
Kalau saja kita bisa memilih, tentu ingin terlahir dari keluarga yang kaya raya. Memiliki segala halnya dengan mudah, namun apakah itu kebahagiaan yang sebenarnya? Soal cinta, tentu kita ingin memiliki pasangan yang baik, yang seirama dengan kita. Yang selalu menerima dan saling melengkapi setiap sisi lemah diri. Namun apa benar ada pasangan yang sejatinya benar-benar sempurna?
Cinta itu indah. Yang jika seharusnya cinta tidak mengenal beda atau kasta. Tapi akan berbeda jika kedua hal itu menjadi penentunya. Yang pada akhirnya arti itu akan berubah, Cinta ialah luka.
Saat ini, sepertinya aku harus rela membuang sedikit masa mudaku. Dalam artian, yang mana kebanyakan teman-temanku saat ini sedang menikmati masa-masa muda dengan kuliah saja tanpa harus bekerja. Bisa bermain dan kemanapun pergi tanpa harus memikirkan biaya. Juga mendapatkan banyak fasilitas dari orang tua. Meskipun aku tidak mendapatkan itu semua, apa aku harus merasa sedih dan menuntut keadaan untuk memberikan apa yang aku tak punya?
Tuhan selalu memiliki cara terbaik untuk mempertemukan kita pada orang-orang yang tepat. Meskipun pada akhirnya orang itu mengecewakan, namun yang terpenting ada sebuah pelajaran yang ingin Tuhan tunjukkan. Mungkin dengan sedikit kekecewaan yang kita dapat, kita menjadi pribadi yang lebih kuat, juga mudah memberi maaf.
"Winda, kabar Argian gimana?"
"Alhamdulillah Argian baik-baik aja, Ma." Jawabku pada Mama. Hampir setiap seminggu sekali Mama pasti menanyakan hal itu kepadaku. Hanya untuk memastikan kalau hubunganku dan Argian baik-baik saja.
"Syukur deh."
Argian, bagiku dia sosok laki-laki hebat kedua setelah ayahku. Dia baik, penuh tanggung jawab, selalu memberi aku semangat, menjaga dan menemaniku menghadapi pelik hidup yang selalu menimpa, sehingga aku merasa beban jadi tidak begitu berat.
Rasanya seribu kata terimakasih tidak cukup untuk membalas semua kebaikan Argian. Dia sudah begitu banyak membantuku, bahkan tidak hanya aku tetapi untuk keluargaku. Kami menjalin hubungan sudah sejak masa SMA dulu. Hingga sekarang kita telah lulus sekolah tiga tahun. Waktu begitu cepat berlalu, Argian sudah sebentar lagi lulus kuliah, menjadi seorang Sarjana. Sedang aku masih belum juga untuk memulai kuliah, karena masih harus terus bekerja.
Enam tahun menjadi orang yang disayanginya adalah anugerah yang begitu aku rasakan indahnya.
"Halo.."
Suara Argian terdengar begitu menenangkan meski dari kejauhan. Aku turut senang dia bisa kuliah di perguruan tinggi negeri di Semarang. Meski jarak kini memisahkan lalu melahirkan kerinduan. Waktu SMA dulu, Argian berupaya keras agar aku bisa diterima juga di perguruan tinggi negeri. Dia membelikanku buku paket, mendaftarkanku bimbel, bahkan dia mencarikanku berbagai informasi beasiswa agar aku bisa kuliah tanpa harus terbebani banyak biaya. Karena Argian tahu, sebenarnya aku harus menyimpan mimpiku untuk kuliah agar bisa bekerja dulu dan membantu ekonomi keluarga.
Pada akhirnya, begitu pengumuman ujian keluar. Argian diterima di Semarang. Sedang aku tidak diterima dimanapun. Argian sempat menawarkan aku untuk kuliah di swasta, dan dia akan membayar semuanya hingga aku lulus. Aku menolak, aku tidak ingin menjadi beban untuk Argian dan membuatnya harus berdebat dengan kedua orang tuanya karena ingin membiayai aku, kekasihnya. Saat itu, aku dan Argian sudah tiga tahun berpacaran, tapi sulit sekali untukku sekedar mendapatkan dari kedua orang tua Argian sebuah senyuman.
"Iya, Ar."
"Kamu hari ini kerja sampai malam lagi, Win?" Tanya Argian.
"Mungkin iya, Ar. Kamu tahu kan resto tempat aku itu kurang orang. Jadi mau gak mau aku harus lembur terus. Kamu apa kabar?"
"Puji tuhan aku baik, Win. Kamu jaga kesehatan ya, jangan lupa salat juga."
"Iya, Ar. Kamu juga semoga lancar terus kuliahnya ya."
"Aamiin."
Sekarang, Aku merasa menjadi seseorang yang semakin membenci diriku sendiri. Menjadi seorang yang pesimis, menyalahkan keadaan. Juga merasa telah salah langkah dalam mencinta. Apakah aku sanggup jika benar-benar harus kehilangan dirimu, yang mana dahulu senyumanmu selalu meluluhkan amarahku. Yang mana pelukanmu selalu berhasil menghangatkanku tatkala kesedihan menghampiri. Yang mana setiap apa yang kamu lakukan menjadi sebuah perlakuan yang dapat membuat kebahagiaan. Apa aku sanggup menghapus semua, semua yang selalu berhubungan dengan kamu Argian.
"Ayahmu bekerja dimana? Ibumu sibuk apa?"
"Ayah udah gaada Tante, ibu saya jualan makanan kecil-kecilan dirumah."
"Oh, Gitu. Kenapa Argian bisa mau sama kamu ya."
Rasanya benar jika lidah itu bisa menusuk lebih tajam dari sebilah pisau. Bahkan sakitnya melebihi pisau. Tergores pisau bisa terlihat dan diobati, namun tergores perkataan rasanya tidak memiliki obat penyembuh untuk hati.
Keluarga Argian tidak pernah sekalipun menerimaku. Entah kenapa momen itu juga selalu terngiang di kepalaku meski sudah tiga tahun berlalu. Saat untuk pertama kalinya aku berkunjung kerumah Argian setelah tiga tahun berpacaran.
Setelah kelulusan, Aku sering meminta Argian untuk menyudahi semuanya. Sebab apa gunanya kalau kita menjalin hubungan tanpa ada restu orang tua. Sekali lagi, Argian keras kepala, katanya aku bisa membuat orang tuanya luluh dan mau menerima. Seiring waktu berjalan dan cinta yang akan saling menguatkan. Bodohnya, aku pun yakin dan memiliki pemikiran yang sama dengannya. Menurutku, wanita selalu begitu. Seolah terbawa suasana dan perasaan, akhirnya meng-iyakan tapi pada akhirnya menyesalkan. Keputusan pun terjawab sendirinya karena waktu yang terus berputar. Perasaan yang saling memudar bukan karena rasa bosan atau saling ingkar. Tapi karena keadaan yang tidak pernah mendukung untuk kita nantinya saling mengikrar.
"Kamu tahu? Aku begitu mencintaimu, Win."
"Aku pun memiliki perasaan yang sama."
Aku tidak pernah menuntut Argian untuk meyakinkan kedua orang tuanya untuk bisa menerimaku. Aku mencoba mempasrahkan semua kepada waktu. Jika pada akhirnya mereka tidak menyukaiku. Aku terima dengan lapang dada meski jiwa dan raga merasa lesuh dan kecewa.
Aku tidak pernah ingin memaksakan sesuatu. Kecewa itu, aku terima dengan senyum bahagia.
"Akhir bulan ini aku mau kejakarta. Aku mau langsung ketemu kamu ya."
"Okey, kabari aku ya. Biar aku bisa ambil cuti, dan nemenin kamu seharian."
"Iya."
***
Waktu selalu cepat berlalu. Rasanya belum sanggup aku bertemu Argian. Raga seperti tertahan namun jiwa terdorong keinginan untuk memandang wajah dan senyuman.
"Aku senang bisa ngelihat kamu lagi, Win. Matamu, masih indah seperti dulu."
"Kehangatan, Cinta, juga keperdulianmu. Masih aku rasakan begitu kuat, Ar."
"Hari ini, temani aku ya. Aku mau ambil cincin yang udah Mama pesan."
"Iya."
Andai kamu dan aku tidak pernah berbeda.
Andai kamu dan aku tidak pernah saling mengenal sebelumnya.
Andai kamu dan aku, saling mendapat restu orang tua.
Tidak. tidak kamu dan aku, rasanya aku saja. sebab orang tuamu yang tidak pernah bisa menerima aku yang hanya sekedar keluarga sederhana. Seorang wanita yang bekerja untuk menghidupi keluarga. Bukan wanita dengan kalangan atas yang hidup serba mewah.
"Tunggu, Ar."
"Ada apa, Win?"
"Sejak kita usai. Ingatan aku tidak pernah luput darimu. Isi kepalaku selalu penuh dengan rasa sesal, kalbuku terasa tertusuk tajam oleh kita yang masih tidak pernah bisa benar-benar saling berjauhan. Tiga tahun, aku dan kamu mencoba menjaga hubungan, Kamu sadar atau tidak? itu semua menyiksaku."
"Apa aku yang ingin seperti ini? apa aku yang menyudahi semua perasaan yang aku yakini sebagai cinta sejati? Apa aku juga yang ingin menikah, tapi bukan dengan wanita yang selama ini selalu ada? kamu pasti tau jawabannya."
"Memang bukan kamu. Tapi pada akhirnya kita telah buat kesalahan. Mulai detik ini, Kamu harus benar-benar bahagia dengan dia. Kamu harus benar-benar patuh dan mencoba ikhlas menjalani apa yang orangtuamu pilih. Setelah kamu lulus nanti..."
"Cukup, Win." Potong Argian menutup bibir Winda dengan kedua jarinya dengan perlahan. Argian mendekat kepada Winda dan mengecup keningnya. "Terakhir yang bisa aku katakan. Kamu cinta pertama dan terindah yang pernah aku rasakan. Maaf jika pada akhirnya kamu bukan cinta terakhir, karena aku hanya manusia. Dan Tuhan lah yang menentukan semuanya."
Winda terdiam. Mematung dan menangis di pelukan Argian.
Bahagiaku cukup sampai disini. Kehilangan. Tidak apa kamu mengajakku sebentar kepada kekecewaan. Kepada sebuah rasa sakit yang begitu dalam. Kepada sebuah kehancuran yang aku rasa akan abadi dalam diri. Tetapi ingat, aku memiliki senjata terhebat yang hati ini miliki. Rasa mengikhlaskan, yang nantinya akan membawaku kepada ketenangan. Kepada rasa bahagia, yang sudah harus aku miliki seutuhnya.
"Selamat ya, Ar. Semoga acaramu nanti lancar. Pakaikanlah cincin itu ke jari manis dia dengan perasaan cinta. Jangan pernah kecewakan dia karena mengingat aku yang hanya menjadi cinta di masalalu yang hampa dan sia-sia."
"Kamu tetap yang terindah."
Akhirnya semua akan jelas pada waktunya. Cinta yang tidak pernah menerima restupun aku bahagia. Bahagia karena mendapat pelajaran berharga tentang arti merelakan. Cinta yang berbeda pun akan jelas pada waktunya. Jika Tuhan berkehendak menyatukan, tentu akan bersama pada pernikahan. Namun kalau yang kamu temukan adalah perpisahan, cinta tetap berharga, karena tak lebih untuk saling mendewasakan. Cinta, kasta, keyakinan. Semua akan jelas karena waktu dan Tuhan sudah menentukan.
MuhammadSeptiaji16
Pada kenyataannya, kesetiaan tidak selamanya bisa berbicara banyak. Perbedaan seolah menjadi penghalang saat diri berkeingingan besar menentukan masa depan. Juga harta dan tahta seolah penentu akhir dari sebuah arti kebahagiaan.
Kalau saja kita bisa memilih, tentu ingin terlahir dari keluarga yang kaya raya. Memiliki segala halnya dengan mudah, namun apakah itu kebahagiaan yang sebenarnya? Soal cinta, tentu kita ingin memiliki pasangan yang baik, yang seirama dengan kita. Yang selalu menerima dan saling melengkapi setiap sisi lemah diri. Namun apa benar ada pasangan yang sejatinya benar-benar sempurna?
Cinta itu indah. Yang jika seharusnya cinta tidak mengenal beda atau kasta. Tapi akan berbeda jika kedua hal itu menjadi penentunya. Yang pada akhirnya arti itu akan berubah, Cinta ialah luka.
Saat ini, sepertinya aku harus rela membuang sedikit masa mudaku. Dalam artian, yang mana kebanyakan teman-temanku saat ini sedang menikmati masa-masa muda dengan kuliah saja tanpa harus bekerja. Bisa bermain dan kemanapun pergi tanpa harus memikirkan biaya. Juga mendapatkan banyak fasilitas dari orang tua. Meskipun aku tidak mendapatkan itu semua, apa aku harus merasa sedih dan menuntut keadaan untuk memberikan apa yang aku tak punya?
Tuhan selalu memiliki cara terbaik untuk mempertemukan kita pada orang-orang yang tepat. Meskipun pada akhirnya orang itu mengecewakan, namun yang terpenting ada sebuah pelajaran yang ingin Tuhan tunjukkan. Mungkin dengan sedikit kekecewaan yang kita dapat, kita menjadi pribadi yang lebih kuat, juga mudah memberi maaf.
"Winda, kabar Argian gimana?"
"Alhamdulillah Argian baik-baik aja, Ma." Jawabku pada Mama. Hampir setiap seminggu sekali Mama pasti menanyakan hal itu kepadaku. Hanya untuk memastikan kalau hubunganku dan Argian baik-baik saja.
"Syukur deh."
Argian, bagiku dia sosok laki-laki hebat kedua setelah ayahku. Dia baik, penuh tanggung jawab, selalu memberi aku semangat, menjaga dan menemaniku menghadapi pelik hidup yang selalu menimpa, sehingga aku merasa beban jadi tidak begitu berat.
Rasanya seribu kata terimakasih tidak cukup untuk membalas semua kebaikan Argian. Dia sudah begitu banyak membantuku, bahkan tidak hanya aku tetapi untuk keluargaku. Kami menjalin hubungan sudah sejak masa SMA dulu. Hingga sekarang kita telah lulus sekolah tiga tahun. Waktu begitu cepat berlalu, Argian sudah sebentar lagi lulus kuliah, menjadi seorang Sarjana. Sedang aku masih belum juga untuk memulai kuliah, karena masih harus terus bekerja.
Enam tahun menjadi orang yang disayanginya adalah anugerah yang begitu aku rasakan indahnya.
"Halo.."
Suara Argian terdengar begitu menenangkan meski dari kejauhan. Aku turut senang dia bisa kuliah di perguruan tinggi negeri di Semarang. Meski jarak kini memisahkan lalu melahirkan kerinduan. Waktu SMA dulu, Argian berupaya keras agar aku bisa diterima juga di perguruan tinggi negeri. Dia membelikanku buku paket, mendaftarkanku bimbel, bahkan dia mencarikanku berbagai informasi beasiswa agar aku bisa kuliah tanpa harus terbebani banyak biaya. Karena Argian tahu, sebenarnya aku harus menyimpan mimpiku untuk kuliah agar bisa bekerja dulu dan membantu ekonomi keluarga.
Pada akhirnya, begitu pengumuman ujian keluar. Argian diterima di Semarang. Sedang aku tidak diterima dimanapun. Argian sempat menawarkan aku untuk kuliah di swasta, dan dia akan membayar semuanya hingga aku lulus. Aku menolak, aku tidak ingin menjadi beban untuk Argian dan membuatnya harus berdebat dengan kedua orang tuanya karena ingin membiayai aku, kekasihnya. Saat itu, aku dan Argian sudah tiga tahun berpacaran, tapi sulit sekali untukku sekedar mendapatkan dari kedua orang tua Argian sebuah senyuman.
"Iya, Ar."
"Kamu hari ini kerja sampai malam lagi, Win?" Tanya Argian.
"Mungkin iya, Ar. Kamu tahu kan resto tempat aku itu kurang orang. Jadi mau gak mau aku harus lembur terus. Kamu apa kabar?"
"Puji tuhan aku baik, Win. Kamu jaga kesehatan ya, jangan lupa salat juga."
"Iya, Ar. Kamu juga semoga lancar terus kuliahnya ya."
"Aamiin."
Sekarang, Aku merasa menjadi seseorang yang semakin membenci diriku sendiri. Menjadi seorang yang pesimis, menyalahkan keadaan. Juga merasa telah salah langkah dalam mencinta. Apakah aku sanggup jika benar-benar harus kehilangan dirimu, yang mana dahulu senyumanmu selalu meluluhkan amarahku. Yang mana pelukanmu selalu berhasil menghangatkanku tatkala kesedihan menghampiri. Yang mana setiap apa yang kamu lakukan menjadi sebuah perlakuan yang dapat membuat kebahagiaan. Apa aku sanggup menghapus semua, semua yang selalu berhubungan dengan kamu Argian.
"Ayahmu bekerja dimana? Ibumu sibuk apa?"
"Ayah udah gaada Tante, ibu saya jualan makanan kecil-kecilan dirumah."
"Oh, Gitu. Kenapa Argian bisa mau sama kamu ya."
Rasanya benar jika lidah itu bisa menusuk lebih tajam dari sebilah pisau. Bahkan sakitnya melebihi pisau. Tergores pisau bisa terlihat dan diobati, namun tergores perkataan rasanya tidak memiliki obat penyembuh untuk hati.
Keluarga Argian tidak pernah sekalipun menerimaku. Entah kenapa momen itu juga selalu terngiang di kepalaku meski sudah tiga tahun berlalu. Saat untuk pertama kalinya aku berkunjung kerumah Argian setelah tiga tahun berpacaran.
Setelah kelulusan, Aku sering meminta Argian untuk menyudahi semuanya. Sebab apa gunanya kalau kita menjalin hubungan tanpa ada restu orang tua. Sekali lagi, Argian keras kepala, katanya aku bisa membuat orang tuanya luluh dan mau menerima. Seiring waktu berjalan dan cinta yang akan saling menguatkan. Bodohnya, aku pun yakin dan memiliki pemikiran yang sama dengannya. Menurutku, wanita selalu begitu. Seolah terbawa suasana dan perasaan, akhirnya meng-iyakan tapi pada akhirnya menyesalkan. Keputusan pun terjawab sendirinya karena waktu yang terus berputar. Perasaan yang saling memudar bukan karena rasa bosan atau saling ingkar. Tapi karena keadaan yang tidak pernah mendukung untuk kita nantinya saling mengikrar.
"Kamu tahu? Aku begitu mencintaimu, Win."
"Aku pun memiliki perasaan yang sama."
Aku tidak pernah menuntut Argian untuk meyakinkan kedua orang tuanya untuk bisa menerimaku. Aku mencoba mempasrahkan semua kepada waktu. Jika pada akhirnya mereka tidak menyukaiku. Aku terima dengan lapang dada meski jiwa dan raga merasa lesuh dan kecewa.
Aku tidak pernah ingin memaksakan sesuatu. Kecewa itu, aku terima dengan senyum bahagia.
"Akhir bulan ini aku mau kejakarta. Aku mau langsung ketemu kamu ya."
"Okey, kabari aku ya. Biar aku bisa ambil cuti, dan nemenin kamu seharian."
"Iya."
***
Waktu selalu cepat berlalu. Rasanya belum sanggup aku bertemu Argian. Raga seperti tertahan namun jiwa terdorong keinginan untuk memandang wajah dan senyuman.
"Aku senang bisa ngelihat kamu lagi, Win. Matamu, masih indah seperti dulu."
"Kehangatan, Cinta, juga keperdulianmu. Masih aku rasakan begitu kuat, Ar."
"Hari ini, temani aku ya. Aku mau ambil cincin yang udah Mama pesan."
"Iya."
Andai kamu dan aku tidak pernah berbeda.
Andai kamu dan aku tidak pernah saling mengenal sebelumnya.
Andai kamu dan aku, saling mendapat restu orang tua.
Tidak. tidak kamu dan aku, rasanya aku saja. sebab orang tuamu yang tidak pernah bisa menerima aku yang hanya sekedar keluarga sederhana. Seorang wanita yang bekerja untuk menghidupi keluarga. Bukan wanita dengan kalangan atas yang hidup serba mewah.
"Tunggu, Ar."
"Ada apa, Win?"
"Sejak kita usai. Ingatan aku tidak pernah luput darimu. Isi kepalaku selalu penuh dengan rasa sesal, kalbuku terasa tertusuk tajam oleh kita yang masih tidak pernah bisa benar-benar saling berjauhan. Tiga tahun, aku dan kamu mencoba menjaga hubungan, Kamu sadar atau tidak? itu semua menyiksaku."
"Apa aku yang ingin seperti ini? apa aku yang menyudahi semua perasaan yang aku yakini sebagai cinta sejati? Apa aku juga yang ingin menikah, tapi bukan dengan wanita yang selama ini selalu ada? kamu pasti tau jawabannya."
"Memang bukan kamu. Tapi pada akhirnya kita telah buat kesalahan. Mulai detik ini, Kamu harus benar-benar bahagia dengan dia. Kamu harus benar-benar patuh dan mencoba ikhlas menjalani apa yang orangtuamu pilih. Setelah kamu lulus nanti..."
"Cukup, Win." Potong Argian menutup bibir Winda dengan kedua jarinya dengan perlahan. Argian mendekat kepada Winda dan mengecup keningnya. "Terakhir yang bisa aku katakan. Kamu cinta pertama dan terindah yang pernah aku rasakan. Maaf jika pada akhirnya kamu bukan cinta terakhir, karena aku hanya manusia. Dan Tuhan lah yang menentukan semuanya."
Winda terdiam. Mematung dan menangis di pelukan Argian.
Bahagiaku cukup sampai disini. Kehilangan. Tidak apa kamu mengajakku sebentar kepada kekecewaan. Kepada sebuah rasa sakit yang begitu dalam. Kepada sebuah kehancuran yang aku rasa akan abadi dalam diri. Tetapi ingat, aku memiliki senjata terhebat yang hati ini miliki. Rasa mengikhlaskan, yang nantinya akan membawaku kepada ketenangan. Kepada rasa bahagia, yang sudah harus aku miliki seutuhnya.
"Selamat ya, Ar. Semoga acaramu nanti lancar. Pakaikanlah cincin itu ke jari manis dia dengan perasaan cinta. Jangan pernah kecewakan dia karena mengingat aku yang hanya menjadi cinta di masalalu yang hampa dan sia-sia."
"Kamu tetap yang terindah."
Akhirnya semua akan jelas pada waktunya. Cinta yang tidak pernah menerima restupun aku bahagia. Bahagia karena mendapat pelajaran berharga tentang arti merelakan. Cinta yang berbeda pun akan jelas pada waktunya. Jika Tuhan berkehendak menyatukan, tentu akan bersama pada pernikahan. Namun kalau yang kamu temukan adalah perpisahan, cinta tetap berharga, karena tak lebih untuk saling mendewasakan. Cinta, kasta, keyakinan. Semua akan jelas karena waktu dan Tuhan sudah menentukan.
MuhammadSeptiaji16
Komentar
Posting Komentar