Kebahagiaanmu, Penting untukku.


Kebahagiaanmu, Penting untukku.

"Aku bukan lagi orang yang pantas kau tunggu." Tegas Zelia. 

Aku terus terdiam memegangi ponsel yang tertempel di telingaku. Entah hal apa yang membuatnya meneleponku lagi, setelah lebih dari tiga tahun ini kita sudah tidak lagi saling bercengkrama. Meski hanya sekedar bertegur sapa. Ataupun menelepon untuk bertanya kabar berita.

Aku tau dia jauh disana. Tapi sejak saat itu, aku menyesal karena tidak sekalipun mengatakannya. Juga kembali untuknya. ( untuk sekedar menghapus air mata yang terjatuh karena besarnya egoku. )

"Sampai sekarang ini, aku tetap seperti ini kan? Meski kau tidak pernah aku miliki, setidaknya kau tau bahwa aku mencintaimu."

"Tidak ! Tidak lagi. Cukup sampai disini. Aku sudah mempersiapkan pernikahan dengannya."

"Selalu mencintaimu, sudah berarti besar untukku." Ucapku dengan begitu lantang.

Ponselku tetap kugenggam erat, meski dengan perasaan begitu sedih. Juga hati yang terasa terbelah dua. Kucoba terus menahan sakit dengan senyum, meski dia tak melihatnya. Saat itu, aku pun mendengar, isakkan tangis yang begitu keras meski dia jauh disana.

"Dicintaimu, adalah hal terindah yang aku rasakan." Jawab Zelia. Meski sedikit terbata-bata. 

Aku semakin terdiam. Aku merasakan sesak didadanya. Entah siapa yang hebat, Aku atau dia. Dengan tegar aku menerima kalau bahagiaku kini sudah dimiliki oleh orang lain. Sebaliknya, dengan perasaan yang teguh dia memberiku kabar kalau dia sudah menemukan pilihannya.

Aku menangis. Entah bahagia, atau merasakan luka. Yang kutau, mencintainya sejak dulu sudah menjadi kenangan yang teramat hebat. Aku mengerti, Kita tidak saling memiliki. Hanya memegang kepercayaan kalau hati kita tidak akan saling menyakiti. Sampai pada akhirnya. Kecemburuan yang  membuat kita bertengkar. Kesibukan membuat kita sulit bercengkrama bersama. Tapi kutau, luka dan sakit itu mendewasakan kita.

"Selamat, Zel. Aku pasti akan datang."

Dia menangis. Begitu keras. Sampai pada akhirnya sambungan telepon tak lagi menghubungkan aku dengannya.

Aku berfikir. Jika tiga tahun ini tidak kuhabiskan masa sendiri, apa bisa saja dia bersamaku? Dahulu. Aku menyatakan cintaku padanya.

"Kalau udah lulus kuliah nanti, impian kamu apa?" tanya Zelia sambil menatapku dengan senyum begitu indah.

"Sudah sangat cukup bagiku, apabila bisa membahagiakan dua orang wanita yang aku cinta. Ibuku. Dan Kamu."

Kutatap Zelia percaya diri. Dia hanya terdiam. Mungkin bukan jawaban itu yang dia harapkan. Tapi soal impian. Entah aku ini menjadi Guru, dokter, tentara, atau bahkan Presiden.

"Kalau kamu?" Tanyaku pada Zelia.

"Aku ingin selalu bersama lelaki yang benar-benar mencintaiku. Apakah itu kamu?"

"Kenapa kamu bertanya itu padaku? Menurutmu, apakah aku pantas?"

"Hanya kamu yang tau kamu itu pantas atau tidak."

"Aku cinta kamu Zelia."

Dia hanya tersenyum. Tidak menjawab. 

Bodohnya, saat itu kenapa aku tidak bertanya kepadanya. Dan memastikan hubungan kita. Apakah dia mencintaiku juga? Meski sebenarnya aku tau. Dihatinya terukir indah namaku.

Kita tidak berpacaran. Tetapi, kita saling merasa kecemburuan. Kita tidak berpacaran, tetapi kenapa kita saling menjaga perasaan? Sampai pada akhirnya, Kita bertengkar hebat karena ego masing-masing yang tidak kita kendalikan. Dia menghilang. Akupun menghilang. Bukan karena keinginan. Melainkan ingin sama-sama menjaga perasaan.

Dan sampai detik ini, aku masih terdiam. Kalau dia meneleponku dan memberikan kabar undangan. Aku ingin selalu tersenyum. Setidaknya, tiga tahun menjaga perasaan ini. Tetaplah indah karena aku terus setia. Tetap setia mencintainya. Sampai dia menemukan bahagia yang sebenarnya. 

Terimakasih Zelia. 

MuhammadSeptiaji.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekilas Tatapan.

Jatuh Cinta Tidak Hanya Lewat Mata