Dusta Berakhir Duka
Aku begitu berupaya untuk kita tetap bersama. Meskipun, engkau telah berulang kali meminta untuk berpisah. Aku tidak pernah lelah berusaha untuk mencoba menyatukan lagi aku dan kamu menjadi kita.
Tetapi, terkadang aku berpikir bagaimana bisa aku mencoba membohongi diriku sendiri untuk kedua kalinya, menyakiti dia untuk kedua kalinya. Bahkan menyakiti kamu, Dan dia (Juga).
Secangkir teh menenangkan aku. Secangkir kopi menenangkan kamu. Aku tidak mengerti angan kita larut kemana saat itu. Sampai bisa sejauh ini melangkah. Aku suka manisnya teh hangat ini. Kamu suka pahitnya kopi hitam itu. Aku lelaki yang terpuruk dalam sepi. Dan kau wanita yang bahagia akan kepastian menikah.
Sepi dan bahagia. Dua hal yang berbeda. Tetapi seolah kusatukan semuanya. Seolah menganggap kita sama. Hanya karena aku ingin berpikiran kau juga kesepian.
Aku. Aku adalah cinta yang terpendam jauh, jatuh dalam luka. Kamu. Kamu adalah rindu yang coba berniat baik untuk bantu melalui kedatangan yang menghadirkan tawa.
Tawa yang ternyata salah. Membuat kenyamanan yang aku pikir dapat bertahan selamanya. Bukan sesaat saja mengisi hari yang kosong tanpa dia.
Dari awal aku tau. Bahkan kita. Bukan aku saja. Kalau di awal hanya untuk mengisi hari, agar tidak ada tangis atau sedih yang mendiam. Mendiam di dalam hati yang sepi. Karena dia. Dan dia (Juga) sedang sibuk dengan dunia.
Tapi, kesalahan ini adalah yang terbesar. Karena aku yang memulai. Untuk mencoba nyaman. Dan memulai rindu ini untukmu. Bukan untuk dia. Dan aku juga yang memulai, mencoba mengisi hari dan hatimu yang sepi karena dia (Juga) sibuk untuk meraih karir dan mimpinya.
Bodoh. Akulah bodoh itu. Merebutmu dari sahabat baikku. Meninggalkan kekasihku. Menyakiti kamu. Bukan dengan permasalahan kita berpisah pergi. Tapi karena kebohongan, juga perselingkuhan yang kita jalani. Aku yang memulai. Aku yang menghancurkan semua. Kamu dan dia yang bahkan telah merencanakan menikah. Juga Aku yang telah bersamanya. Kini hancur, musnah, tanpa ada lagi kata persahabatan. Hanya karena berawal dari nyaman yang kita salah artikan. Berlanjut ke dalam gelapnya hubungan. Yang kita sembunyikan. Lama. Lama dan lama. Yang akhirnya kebohongan pun tetap akan terungkapkan.
Maafkan aku menghancurkan kamu dan dia (Juga). Dia yang tidak lain adalah lelaki yang telah menjadi sahabatku sejak lama. Juga menghancurkan kepercayaan dan juga kebersamaan yang telah lama aku jalani dengan dia. Dia kekasihku.
Ternyata memang benar. Tidak akan ada kebohongan yang sempurna.
Karena kini aku dan kamu seperti Dusta yang berakhir duka.
Muhammadseptiaji16.
Ninggalin jejak dulu gan
BalasHapus