Tujuh Hari Menulis Untukmu.


"Jika suatu saat, ada waktu dimana aku harus pergi. Aku meminta, agar kamu tetap disini menungguku kembali ya."

Dia tersenyum, sambil memandang wajahku. "Memangnya? Kamu mau kemana sih.."

Aku tidak bisa menjawab. Karena tanpa dasar apapun, aku tiba-tiba ingin mengatakan hal itu. Entah karena ingin selalu bersamanya atau hal lain.

Saat itu, hembusan angin begitu kencang menerpa wajahku dan dia. Juga suara desir ombak yang tidak mau kalah menemani suasana haru aku dan dia yang tengah duduk meluruskan kaki dipinggir pantai.

Kumenoleh kepadanya sekali lagi. Wajah cantik itu memang selalu membuatku tersenyum. Membuat bola mata ini tidak ingin sedetikpun luput memandanginya.
Mungkin juga, kalau pun nanti aku harus kehilangannya. Apa sanggup aku untuk tidak memandangi wajahnya sekali saja meski dalam bentuk fotonya.

"Ya aku bertanya saja." Ucapku tertawa.

"Jangan pernah bicara seperti itu kalau hanya ingin menguji kesetiaanku. Memangnya, menurutmu aku tidak takut kehilanganmu? Setiap wanita pasti mempunyai ketakutannya sendiri kalau lelakinya pergi."

"Aku, akan selalu melindungi kamu!"

"Aku tau itu."

***

"Maaf, aku hampir saja telat. Tadi jalanan sedikit macet. Padahal sudah malam begini. Aku bingung kenapa jakarta masih semacet tadi meski sudah malam."

Aku berbicara sendiri. Sambil mengeluarkan laptop dan menaruhnya di meja.

"Saya lihat dia sudah tiga hari berturut selalu datang kesini."

Aku mendengar seorang lelaki paruh baya berbicara dengan seorang waitres yang sedang menaruh secangkir kopi ke tray yang telah dipegangnya. Dilihat dari seragamnya. Mungkin dia seorang supervisor, atau bisa jadi dia pemilik kafe ini.

"Iya pak, dia setiap hari datang kesini. Selalu tepat pukul 10:11 malam lagi. Udah gitu selalu pesan coffe late tapi ga pernah diminum."

"Ah, Masa? Yaudah kamu anter itu nanti keburu dingin."

Aku mulai membuka laptopku, menghidupkannya dan mulai kembali menulis apa yang harus aku selesaikan. Tiga hari sudah aku selalu ketempat ini. Dan itu tanpa kamu. Kamu yang pernah mengatakan kalau wanita selalu mempunyai rasa takut kalau lelakinya pergi. Meski pada kenyataannya. Aku tidak pernah pergi. Dan kamu menghilang tanpa pernah ada kabar lagi. Seolah seperti kaca yang telah retak. Aku mencoba bertahan agar tidak pecah.

-Untukmu. Lelakimu masih selalu disini. Dengan sejuta pengharapan ingin segera menemuimu kembali.-
Send.

Waitres menghampiriku, menyapa dan mengucapkan selamat malam dengan Tersenyum. Aku tidak mengucapkan apapun. Tiba-tiba dia mengucapkan hal yang memang akan aku katakan.

"Satu coffe late ya kak?"

"Hem iya." ucapku singkat.

"Oke, ditunggu ya."

Malam itu, saat dipantai. Sangat berbeda dengan malam dimana kamu terakhir mengajakku bertemu. Tapi aku tidak bisa datang karena harus menyelesaikan pekerjaanku. Yang mana pada akhirnya setelah itu aku tidak pernah bertemu lagi dengan kamu.

Apakah bisa dikatakan baik-baik saja kalau kepergian itu tanpa aba-aba? Apakah bisa aku menebak kalau kamu pergi hanya sebentar, tetapi kamu tidak pernah memberi kabar?

Beberapa kali aku mencoba kerumahmu. Tapi rumah itu seperti kosong tak ditinggali. Tidak seorangpun keluar untuk membukakan aku pintu. Nomor teleponmu selalu tidak aktif. Apakah kamu pergi untuk waktu yang lama. Atau hanya ada urusan sementara.

Satu bulan tidak ada lagi kabar darimu. Tempat ini, maaf aku baru kembali lagi kesini. Kau pasti tau, aku selalu bekerja sampai malam. Tapi sekarang selalu kusempatkan untuk ketempat ini.

***

10:05 PM.

"Hari ini aku datang awal. Tidak tepat waktu apalagi terlambat." ucapku berbicara sendiri sambil menaruh tas berisikan laptop ke meja.

Hujan begitu deras. Untungnya, aku hanya sedikit kebasahan. Mungkin kalau ada kamu. Seperti saat itu. Kamu akan memarahiku untuk mengusap rambut basahku ini dengan sapu tangan agar cepat kering dan aku tidak pusing. Tapi, aku tau. Malam ini tidak akan ada yang mengingatkan aku akan hal itu. Jadi aku diamkan saja. Urusan pusing. Biar kutahan ditemani dinginnya malam.

"Saya bingung. Sudah tujuh hari ini dia selalu kemari. Dan, Coffe late yang dipesan nya tidak pernah sekalipun diminumnya. Apa alasannya ya?"

"Saya juga gatau pak. Tapi benar kan dia selalu datang diatas jam sepuluh malam."

"Yaudah nanti kamu samperin aja lagi ya."

Tujuh hari aku selalu disini. Berharap tiba-tiba kamu datang. Seperti saat kita bersama dulu. Selalu ke kafe ini untuk berbagi pikiran soal kehidupan.

Aku menyesal malam itu tidak bertanya kenapa. Menyesal tidak memikirkanmu. Suaramu, kamu terdengar begitu marah menyuruhku untuk menemuimu. Dan tidak lama, kamu menangis begitu saja ketika aku mengatakan sama sekali tidak bisa meninggalkan pekerjaanku.

-Tujuh hari menulis untukmu. Sampai saat ini, aku selalu setia menanti. Entah penantian yang menghasilkan atau akan mengecewakan. Itu bukan masalah bagiku. Yang terpenting adalah.. KAMU KEMBALI.
Sampai saat ini, rasa itu tidak juga pergi. Bertahan disini. Dikesepian yang tersakiti. Rasa cinta ini masih di hati, meski bercampur tanda tanya apakah kau sudah memiliki kekasih baru lagi? Kamu tau aku tidak suka perpisahan. Meski kamu selalu menjelaskan kalau pada akhirnya manusia juga pasti akan berpisah pada orang yang dicintainya. Entah itu karena pengkhianatan, ataupun karena kematian. Yang jelas, aku tetap yakin. Kalau cintamu masih untukku. Meski aku tidak memiliki alasan yang kuat akan hal itu. Aku akan selalu disini. Menunggumu kembali. Setiap saat. Di jam 10:11 malam. Tepat dimana saat itu adalah waktu kita memutuskan untuk bersama dan menjalin kasih. Untukmu, dari lelaki yang masih selalu disini menunggumu.-
Send.

"Pesan apa ka?"

Suara waitres tiba-tiba mengagetkan aku. Akupun sampai lupa. Kalau harus memesan coffe late.

"Satu coffe late ya."

"lagi?"

"Maksudnya ka?" Tanyaku bingung.

"Hm. Maaf gapapa kok kak. Maksud saya Coffe late lagi ya."

"Oh gitu. Iya Coffe late satu ya."

Aku bersandar. Menatap dinding langit kafe ini. Biasanya kalau ada kamu. Kamu akan selalu mengusap rambutku. Sambil bertanya apakah aku mengantuk? Karena besok pagi sudah harus bekerja kembali.

Begitu coffe late itu mendarat di meja. Aku memandanginya. Biasanya aku akan menegukkannya sedikit untukmu. Karena kamu selalu manja dan ingin selalu aku perhatikan.

Aku hanya bisa diam. Terus diam sampai pada akhirnya ada seorang wanita memakai syal menutupi kepalanya yang dengan tiba-tiba langsung duduk dan meminum coffe late itu.

Aku marah. Sangat marah.

Bagiku. Tidak ada seorang pun yang boleh meminum ini selain kamu.

"Kamu siapa! Kenapa kamu minum seenaknya saja."

Wanita itu diam. Yang ada malah waitres dan atasannya yang datang menghampiriku karena mungkin tidak ingin ada keributan di kafenya. Ya meski kafe ini saat malam begini sudah mulai sepi.

"Ada yang bisa dibantu?"

"Maaf wanita ini tiba-tiba duduk. Dan meminum kopi saya."

"Maaf sebelumnya pak. Tapi bapak kan sudah tujuh hari selalu datang kesini berturut-turut. Dan mba ini juga sama halnya seperti anda. Soal coffe late. Bukankah bapak tidak pernah meminumnya? Dan wanita ini mengatakan kalau dia adalah teman bapak. Makanya setiap bapak pulang coffe late itu selalu mba ini yang meminumnya. Dia selalu duduk disebelah sana." Ujar Waitres menjelaskan.

"Kamu memang siapa? Aku memang sempat melihatmu beberapa hari lalu disini. Tapi kenapa kamu selalu meminum coffe late ini?" Tanyaku pada wanita itu setelah mendapat penjelasan yang mencengangkan dari waitres yang selalu melayaniku.

"Aku wanitamu."

"Maksud kamu?"

"Aku adalah wanita dipantai itu. Dan aku adalah wanita yang selalu takut kehilangan lelaki sepertimu."

"Gak mungkin. Kalau kamu dia. Kenapa wajahnya berbeda?"

"Harusnya kamu datang saat itu. Aku kecelakaan. Dan wajahku terbentur stir mobil begitu keras. Aku harus dioperasi."

"Zafanya. Apa benar ini kamu." tanganku bergetar sambil perlahan memegang pipinya.

"Aku takut kamu pergi dari aku. Jadi.. Lebih baik aku menghilang dan tidak pernah mengabarkanmu. Tapi aku yakin. Suatu saat kamu pasti akan kesini. Dan ternyata benar. Bagiku mungkin sudah cukup memandangmu dari jauh. Tapi ternyata lama kelamaan aku tidak bisa hanya terus bersembunyi seperti ini. Aku harus memberanikan diri. Dan saat ini waktunya, tepat ditanggal tujuh tahun kita sudah bersama."

Zafanya menjelaskan hal yang membuatku begitu sakit mendengarnya. Sakit yang langsung menusuk hati karena penyesalan yang tidak berarti lagi.

Aku masih terdiam. Memandanginya sambil menahan air mata. Waitres itu pun kembali lagi bekerja. Kenapa waitres itu juga tidak pernah mengatakan kalau ada yang meminum coffe late itu setelah kupergi.

"Apakah kamu akan menerima aku?" Tanya Zafanya bergetar.

"Tentu. Apa ada alasan aku meninggalkan wanita sesempurna kamu! Tidak akan pernah ada alasan apapun untuk aku menjauh dari kamu."

"Wanita memang selalu takut kalau lelakinya pergi. Dan aku memang tidak akan bisa kalau kamu pergi."

"Nyatanya. Hal yang kita bicarakan malam itu adalah benar. Bedanya. Kamu yang meninggalkan aku."

"Aku selalu disini. Memandangimu dan meminum coffe late yang selalu kamu pesankan untukku."

Aku tidak tau harus menangis atau tersenyum. Dia begitu istimewa.

"Wajahku.."

"Aku akan selalu menjaga kamu. Dan tidak perduli apapun yang terjadi pada fisikmu saat ini. Soal kemarin. Jangan ulangi lagi. Aku akan selalu menerimamu. Dan mulai sekarang. Kamu prioritas utamaku. Aku mau melamarmu. Aku ingin menikahimu. Agar, kamu tidak pernah pergi lagi dalam hidupku." Ucapku sambil memegang kedua tangannya.

Dia hanya menangis. Aku menghampirinya dan memeluknya untuk menenangkannya. Aku ingin membuat dia selalu bahagia. Keyakinanku benar. Dia tidak pergi. Ternyata tetap selalu disini. Sama seperti aku yang selalu mengharapkannya kembali.

Tujuh hari menulis untukmu. Ternyata, cinta itu benar adanya. Kepergian itu bukan selalu hal yang salah. Karena sekarang ini. Kita berdua menjadi tau apa itu arti SETIA.

Untukmu. Wanita yang selalu takut kehilangan lelakinya. Dan aku yang selalu menulis cinta untuknya. Serta selalu berusaha mewujudkanmya menjadi NYATA.

Muhammadseptiaji.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekilas Tatapan.

Jatuh Cinta Tidak Hanya Lewat Mata

Kebahagiaanmu, Penting untukku.