Aku yang berusaha menetap, dari kamu yang tidak pernah menganggap.
Menyingkirkan sebuah perasaan lelah bukan suatu hal yang mudah. Terlebih mencoba menutupinya agar tetap terlihat bahagia. Kamu tidak pernah tahu seberapa berjuangnya aku hanya untuk mendapatkan seutas senyum darimu. Tidak pernah tahu betapa sunyi dan hampanya malam tiba, tanpa pernah ada kata manja, seperti yang selalu aku utarakan agar bisa membuat kamu ceria.
Aku hanya berjuang sendirian. Tanpa kamu pernah perhatikan.
Tapi tidak apa, Aku terus mencoba baik-baik saja. Karena kebanyakan cinta berawal dari sebuah rasa yang dulunya sempat terabaikan. Namun di sesalkan begitu seseorang yang berjuang pergi meninggalkan. Karena lelah yang sudah keterlaluan. Tapi tenanglah. Aku tidak akan pergi selelah apapun meninggalkan kamu sendirian.
Aku mungkin menghibur diriku sendiri dengan mengatakan tenanglah. Karena aku tau kamu juga tidak akan pernah perduli, dan bahkan ada tiadanya diriku kamu tidak pernah menyadari.
Aku menganggap kamu rumah. Tempat aku kembali disaat aku benar-benar lelah. Tapi kamu seolah tidak pernah menerima, walau aku hanya sekedar singgah. Kalau singgah saja aku tidak bisa. Walau sebentar. Apa masih ada harapanku agar kamu bisa menerima?
Aku kesal. Lelah aku rasa, tapi tidak pernah mau meninggalkan rasa yang ada. Sikap cuek darimu bukannya menjadi alasan untukku menjauh, malah membuat aku semakin rapuh tapi merindu. Diamnya kamu, dingin dan mengabaikan diriku. Tetap saja membuat rasa ini semakin merasakan arti jatuh cinta. Bukannya cinta itu bahagia? Kenapa rasanya malah sakit dan tertekan seperti ini.
Harusnya aku sadar. Aku ini hanyalah seseorang yang berusaha menetap, dari kamu yang tidak pernah menganggap.
Terimakasih.
MuhammadSeptiaji.
Komentar
Posting Komentar