Hidup adalah Judulnya.

AKU. Lelaki yang tidak memiliki materi berlebih. Tidak sama sekali ada ketampanan dalam diri. Apalagi popularitas yang menghiasi hidup ini. Tetapi, aku merasa cukup. Tidak ingin berputus asa. Betapapun kerasnya ujian hidup yang menerpa. Sebab, aku ingin belajar apa itu arti bersyukur yang sesungguhnya. Keluarga. Teman. Kekasih? hem, mungkin karena mereka semua. Tapi yang utama. adalah jalan indah Tuhan yang maha Esa. Membuat hidup bisa bertahan sejauh dan sebahagia ini.

Pernahkah kalian merasa hidup ini berat?
Pernahkah kalian merasa hidup ini tidak adil?
Pernahkah kalian merasa kesulitan yang ada dalam hidup kalian adalah yang terberat?

Tanpa menunggu jawaban kalian, dengan lantang aku sendiri pun akan menjawab iya.
Tapi, apakah yang terjadi benar demikian. Kalau memang seperti itu, siapakah yang salah? Atau siapakah yang harus disalahkan? Mungkin jawabannya tidak ada. Kenapa? Karena...

Sore, 29 Desember 2015.
Ketika itu, Kehancuran seperti datang menimpa tanpa pernah memberi aba-aba. Aku yang sedang merasakan beratnya kehidupan. Seolah semakin tertimpa beban yang mungkin aku sangat tidak yakin dapat selesaikan. Apalah aku? hanya seseorang yang belum mendapatkan pekerjaan. Yang memiliki sedikit penghasilan, tetapi ingin sekali mewujudkan impian.

Aku. Anak pertama dari tiga bersaudara. Menjadi anak pertama sama sekali bukan hal mudah. Terlebih dua orang adik yang aku punya umurnya agak jauh berbeda. Peran seorang kakak tentu bukan hanya sekedar menjaga. Tetapi memastikan kalau semua akan baik-baik saja. Sekarang ataupun yang akan datang. bukan mendahului takdir Tuhan. Tetapi mempersiapkan yang terbaik untuk masa depan.

Aku. Masih memiliki seorang ibu yang begitu hebat. Namun, dia sedang sakit bahkan sampai sekarang masih belum membaik. Meskipun dapat beraktifitas seperti biasanya. Tetapi Ibu tetap tidak bisa ditinggalkan sendiri karena sakit yang dideritanya agak berbeda.

Aku tidak bekerja secara formal, meskipun begitu setidaknya masih bisa mencari sedikit penghasilan. Dan, kesehatan Ibu adalah yang terpenting bagiku. Sebenarnya aku ingin mencari pekerjaan yang lebih baik. Tetapi jika aku bergabung di suatu perusahaan tentu akan sedikit sulit mengatur waktunya. Jadi mungkin ada baiknya aku mengambil pekerjaan yang serabutan saja.

AKU, lulusan SMA tahun 2013.
Pada pertengahan tahun 2015. Aku mulai masuk di Universitas swasta. Dua tahun tertunda cukup lama rasanya bagiku. Tapi mungkin menunda kuliah adalah yang terbaik. Hal ini pun tidak lepas dari jalan hidup Tuhan yang sudah digariskan, dengan begitu indah dan pastinya sudah dipersiapkan. Mungkin saja jikalau aku langsung bisa kuliah, aku tidak bisa terlebih dahulu mengenal pergaulan, mengenal arti hormat kepada sosok yang umurnya lebih tua dibanding kita.

Sejauh ini kuliahku baik-baik saja. Awalnya sempat tidak yakin. Karena sulit untuk mencari biaya. Tapi benar! Rezeki dari tuhan memang tidak pernah tertukar. Dan aku yakin, semua hal yang diniatkan untuk kebaikan. Pasti akan ada jalan.

Sejauh ini aku benar merasa lelah dengan keadaan Ibuku yang masih belum membaik. Hingga Pada sore itu. Tiba-tiba kondisi Ayahku juga melemah. Seluruh tubuhnya kaku. Sulit untuk digerakkan. Aku mengantarkannya kerumah sakit. Hasilnya Ayahku terkena Stroke.

Kesedihan mendalam begitu aku rasakan. Memupuk rasa sakit yang tidak tertahan. Kehidupan sudah seperti tidak pernah memberikan kebahagiaan. Yang ada hanya hampa dan seperti sebuah penyiksaan. Kepala ini terasa berat. Hati ini  terasa sesak. Tidak tau harus berbuat apa. seolah Tuhan tidak bersama kita.

Aku merasa tuhan tidak pernah adil. Sebab disaat semua temanku sedang merasakan asiknya menikmati bangku kuliah. Menikmati pekerjaan yang nyaman dan bisa mendapat penghasilan yang berkecukupan. Memiliki keluarga yang bisa berkumpul bersama dengan senang. tetapi aku harus merasakan pahitnya kehidupan. Jangankan untuk bermain bersama teman, untuk tersenyum pun sulit aku lakukan. Meskipun dikeramaian, hati ini kesepian. Bibir dan lidah ini sulit sekali dilekukan meski sedikit, yang selalu kucoba untuk menggoreskan senyuman.

'' Mungkin ini adalah cara terbaik dari Tuhan, biar kamu semakin dewasa, dan matang pemikirannya. Fokus, sabar dan hadapi semuanya. Tuhan tidak pernah memberi ujian diluar batas kesanggupan hambanya." Ucap salah satu rekanku dengan penuh ke khawatiran. Karena wajahku begitu muram.

Bagaimana tidak? Kedua adikku masih bersekolah. Kedua orang tuaku sakit. Akupun harus membayar kuliah. lalu bagaimana kehidupan ini akan berjalan? Sedangkan akupun tidak bekerja, dan tidak punya cukup penghasilan.

30 desember 2015.

"Iya, Papa sakit. Stroke. Mama juga kan masih sakit, jadi gabisa ditinggal sendiri." Ucapku pada seorang wanita yang mungkin aku percayai saat itu.

"Oh gitu."

Tanggapannya seolah biasa saja. Aku merasa begitu kecewa. Aku benar-benar merasa terpuruk. Jatuh dan tak tau kapan aku bisa berdiri lagi. Bahkan secara perlahan saja tidak bisa. Dan dia, sosok yang aku harap serta percaya bisa mensupport,memberi aku dukungan agar tidak merasa sendiri. Ternyata menjatuhkanku dengan sikap acuh. Dan sampai akhirnya pergi tanpa ingin kembali.

"Kita udah gabisa sama-sama. Masa depan kamu mau dibawa kemana? kalau kamu kaya gitu aku udah gabisa terus sama-sama. Aku juga mau kehidupan lebih baik kedepannya. Kita gabisa terus lanjutin hubungan ini. kita harus selesaiin hubungan ini. Tapi dengan baik-baik." Ucap dia. Wanita yang kupercaya yang ternyata membuat aku kecewa begitu parah.

"Maksudnya? Aku butuh kamu. Kenapa kita tidak saling mengisi disaat sulit begini. Kenapa dengan cobaan yang datang menimpa, kamu malah pergi begitu saja. tidak ada yang namanya selesai baik-baik jika caranya seperti ini."

"Udahlah, Aku udah gabisa terus sama kamu."

Cinta harusnya bisa saling menguatkan. Bukan saling meninggalkan. Bersama. Itu bukan tentang harus kamu dan aku yang menjadi kita saja. Tetapi juga dua hati yang harus saling menerima dan saling mensupport satu sama lainnya. Terlebih saat keadaan sedang jatuh-jatuhnya.

31 Desember 2015.

Harusnya, malam nanti adalah malam yang indah. Karena semarak pergantian tahun yang begitu meriahnya. Semua orang mungkin akan bersuka ria. Menyiapkan sesuatu untuk tahun baru. atau mungkin sekedar kumpul bersama keluarga dan menyantap beberapa hidangan spesial.

Lagi-lagi.. tidak dengan aku. Aku yang justru merasakan sedih mendalam. Tangis menetes tanpa bisa tertahan. Menurutku seorang lelaki lebih jujur meneteskan air matanya. Menandakan kesedihan benar-benar sudah melampaui batas diri. Bukan lemah, melainkan menandakan kita ini hanyalah manusia. Yang tidak akan pernah bisa selalu bahagia. Karena pasti kesedihan juga akan menghiasinya. Untuk apa? Agar kita tidak pernah lupa kepada sang pencipta. Ayahku stroke dan harus dirawat dirumah sakit. Ibuku. Adikku. Kini menjadi tanggung jawab terbesarku. Aku seperti putus asa. Harus menjadi tulang punggung pada saat yang belum waktunya. Tidak mengerti harus bagaimana. Tidak tau jalan seperti apa yang akan aku lalui nantinya.

.
.

Putus asa. Kata itu sama sekali bukan jalan yang harus dipilih. Yang seharusnya adalah mencoba tenang, perlahan hadapi semuanya dengan berani.

Beruntung. Kata itu tepat untukku. Sebab, aku memiliki teman-teman yang tidak meninggalkan aku sendirian dalam kesulitan. Aku memiliki keluarga terhebat meski bukan secara fisik yang terlihat. Kekuatan hati dan kepercayaan pada Tuhan membuat semua yang berat terasa sangat mungkin dilalui.

Jangan pernah memperhatikan bagaimana sikap ataupun perlakuan orang lain pada kita. Tetapi perhatikanlah perlakuan kita pada orang lain. Berbuat baiklah, meski tidak selalu terbalas indah. Karena pada akhirnya nanti, baik akan berbuah baik. Memang beberapa teman pergi dan tidak perduli. Tapi setidaknya aku jadi tau, yang mana yang benar-benar teman sejati. Mereka juga tidak harus kita musuhi, melainkan menjadi hal yang bisa kita pelajari.

Kekasih memilih seseorang yang menurutnya bisa lebih baik. Akan hal itu, juga tidak lagi menjadi masalah, sebab aku sudah belajar untuk melepas. Sesuatu yang dipaksakan bukankah tidak akan indah? jadi aku coba belajar untuk ikhlas saja.


"Lo gakan pernah sendiri." Dukungan meyakinkan aku kalau indah pasti datang setelah kesedihan. Aku juga selalu yakin mereka ada tanpa pernah meninggalkan.

.
.

"Gimana kondisi ibu?" Tanya seorang wanita yang begitu baik kepadaku. Bisa dibilang dia orang baru. Namun, perhatiannya begitu besar kepada aku dan keluarga.

Mengenalnya, sedikit memberi warna pada kehidupan yang sebelumnya hitam kelam. Sifat baiknya sangat meluluhkan. Meskipun aku masih takut, untuk memulai lagi menjalin suatu hubungan.

"Baik-baik aja.." Jawabku singkat.

"Syukur deh, jaga baik-baik ibu sama adik-adik. Hebat lohh bisa sejauh ini. Meski belum sekuat dan sesempurna Ayah lo. Seenggaknya selama dia sakit lo udah bener-bener menuhin kebutuhan keluarga. Semua biaya juga lo cari dengan susah payah."

"Bisa aja lo.. Ya alhamdulillah."

"Udah gausah mikir hal apapun. Fokus kesembuhan orangtua lo. Fokus ke adik-adik lo. Dan Fokus kuliah. Gausah mikirin mereka yang pergi jauh dari lo. Apalagi galau gajelas, atau nyari pendamping gausah dulu deh itu."

"Haha. Iya. lagian mana ada yang mau sama gue sekarang ini. Semua wanita juga sama aja. Gada yang bisa nerima kita apa adanya.''

"Gak kaya gitu juga. Pasti ada nantinya, dia yang ada untuk lo bukan disaat lo senang. Tapi disaat lo susah. Dan kehadiran dia menjadi semangat buat lo. Ngisi kosongnya hati lo sekaligus menjadi tujuan hidup lo. Ya asal jangan disaat lo seneng lo justru lupa sama dia dan nyari yang lebih-lebih lagi."

"Ada sih, tapi itu kemungkinannya satu banding seribu." Tegasku.

"Kalau lo mendapati angka satu itu gimana? berarti benar ada kan."

Dan kini aku merasakannya. Walaupun kemungkinan itu satu banding seribu, atau bahkan satu juta sekalipun. Kalau satu yang baiknya itu adalah milikmu. Tuhan tidak akan pernah memberikannya kepada orang lain.

Ternyata.. Satu itu kamu. Kamu yang dengan setia menemaniku kemana saja saat aku merasa kesepian dan harus mencari udara segar diluar sana. Meski hanya duduk di taman ditemani dua botol minuman dingin. Kamu tetap memberiku semangat agar tidak pernah menyerah. Terlebih untuk tetap ikhlas menjalani kehidupan, yang tidak sepenuhnya terisi dengan keindahan.

Perlahan kondisi Ibu dan Ayahku membaik. Kedua adikku bertambah besar, dan semakin mengerti akan kesulitan yang dirasakan. Yang pada akhirnya kita saling berangkulan untuk menatap masa depan.

Pernahkah kalian merasa hidup ini berat?
Pernahkah kalian merasa hidup ini tidak adil?
Pernahkah kalian merasa kesulitan yang ada dalam hidup kalian adalah yang terberat?

Tanpa menunggu jawaban kalian, dengan lantang aku sendiri pun akan menjawab iya.
Tapi, apakah yang terjadi benar demikian. kalau memang seperti itu, siapakah yang salah. Atau siapakah yang harus disalahkan. Mungkin jawabannya tidak ada. Kenapa? Karena...

Karena kita tidak harus menyalahkan. Tetapi menginstropeksi diri untuk tetap melakukan kebaikan.

Kehidupan memang berat. akan tetapi Kita diciptakan untuk jauh lebih kuat.

Bukan tidak adil. Tetapi kita sedang putus asa dan merasa kitalah yang diuji oleh-Nya dengan ujian yang paling berat. Yang pada akhirnya tidak bisa berpikir jernih. Tentu saja ini sangat adil. Tuhan memberikan kita ujian ini yang artinya kita mampu untuk lewati.

Kita merasa terberat jika memandang ke atas. memandang yang kehidupannya kita anggap baik-baik saja, tanpa kita tau pasti keadaan yang sebenarnya. Yang mungkin jauh lebih berat lagi daripada kita. Diluar sana banyak sekali yang lebih sulit di uji daripada ini. Percayalah, yang terbaik akan datang tepat pada waktunya sesuai yang telah direncanakan-Nya.

Tidak terasa kuliahku sebentar lagi akan segera selesai. Semua akhirnya bisa dilalui. Aku juga mendapat tawaran pekerjaan. Aku jalani dengan berat, dengan penuh bersyukur aku ucapkan aku menjadi lebih kuat.

Sebelumnya. Susah payah aku lalui sedih dan duka. Mencari sedikit penghasilan dengan sekuat tenaga. Mengatur waktu antara bekerja, menjaga keluarga dan kuliah. Menempa diri menjadi sosok yang lebih dewasa.

Keluarga. Aku begitu bahagia bisa menjaga mereka. Bisa merasakan beratnya ada di posisi ayah. yang terasa begitu lama, padahal hanya dalam beberapa tahun saja. Sedangkan beliau puluhan tahun harus mencari nafkah seorang diri untuk keluarga tanpa pernah aku tau betapa sakit dan letihnya.
kepada Ibu, yang selalu hebat menyimpan air mata kesedihannya. menahan sakitnya. untuk bisa tetap menjaga anak-anaknya.

.
.

"Hem, ada yang bentar lagi lulus. Congrats ya.." Ucap wanita yang sekarang aku memendam perasaan padanya karena dengan setia selalu ada. Kamulah satu banding satu juta itu.

"Bisa aja. Gue bisa sejauh ini karena adanya lo juga" Jawabku senyum memandanginya.

Dia tersipu malu.

"Ini semua berkat diri lo sendiri. lo berhasil lawan semua kesakitan itu. lo berhasil bangkit dari setiap kehancuran yang menerpa. Yang terakhir karena lo percaya akan takdir Tuhan yang begitu indah. dan yang paling-paling berharga yang lo dapat dari ini semua adalah rasa ikhlas yang buat lo berysukur atas apa yang lo punya."

.
.

Dan waktu, waktu terus berlalu. pada akhirnya..

WISUDA.

Dia datang membawa bunga. Khusus dibeli untuk aku yang tengah berbahagia.

Teman. Mereka semua ada dan memberi selamat.
keluarga. Kedua orangtua masih menahan sakit yang diderita tetapi tetap berusaha untuk ada.

Terimakasih atas perjuangan diri yang pada akhirnya menemui arti. Sakit itu membuat kuat. Luka itu membuat aku menjadi dewasa. Badai yang menerpa telah sirna. Berkat adanya teman, dan keluarga yang selalu ada.

Juga kamu. Pemberi cinta sejati. Yang tidak hadir disaat aku bahagia tetapi justru disaat susah. bersedia temani sejauh ini, tanpa mengharap imbalan selain ketulusan hati.

Aku berhasil. Melewati semua hinaan juga cacian yang terdengar menyakitkan. Melewati beratnya kehidupan yang sempat membuat keputus asaan.

Jangan pernah menyerah. Seberat apapun ujian yang datang menimpa. kamu bisa melewatinya. Karena kamu adalah manusia yang dipilih Tuhan untuk mendapat kasih sayangnya. Mendapat cinta yang amat berharga. Tidak bisa dinilai dengan begitupun banyaknya Harta.

Semangat. Menghadapi hidup baru setelah ini, yang akan jauh lebih berat. Tidak masalah, kemarinpun aku merasa tidak mampu. tapi nyatanya semua bisa aku tempuh.

Aku sekarang telah jauh lebih kuat.

.
.

"Aku memilih kamu. Wanita hebat. Satu diantara satu juta itu. Tidak hadir dan ada untuk aku saja. Tetapi untuk keluargaku juga. Bukan meninggalkan disaat sedang jatuh-jatuhnya, tetapi ada untuk menggenggam tanganku dan membawanya terbang tinggi lagi. Bunga? Cincin? atau apa? akan aku carikan untukmu. Tunggulah aku. Aku akan buat kamu bahagia. Aku ingin menjadi lelaki penahan rasa sakit yang dunia beri untukmu. Nantinya, biar aku saja yang menanggung. Cinta ini tidak ingin aku sekedar ungkap begitu saja. Tapi akan benar-benar aku berikan dalam sebuah perwujudan. Yaitu Pernikahan. Aku siap. Untuk kamu. Keluargaku dan keluargamu."

"Kenapa? Kenapa aku.." Tanyanya seperti menahan tangis haru.

"Karena cinta itu satu. dan itu kamu."

"Hanya itu?"

"Cinta tidak butuh banyak kata. Cukup satu pembuktian nyata."

Dia memelukku. Aku memejamkan mata. Seketika kubuka kembali air mataku bergelinang dengan derasnya. Perasaan tangis bahagia, yang begitu luar biasanya.

Terimakasih. Semua hal memberikan arti bahagia. Meski rasa sakit sekalipun. Karena hidup adalah judulnya. (Hal paling atas dalam sebuah cerita. Barulah dibawahnya ada sakit dan bahagia.)



MuhammadSeptiaji.








Komentar

  1. Si "Aku" ini menurut saya begitu hebat. Dia tetap berjuang, bertanggung jawab dan juga tidak pernah menyerah. Walau teman" dan seseorang yg di cintainya pergi, dia mampu menghadapi itu semua. Dibait yg sangat saya suka dalam cerita ini adalah "Memang beberapa teman pergi dan tidak perduli. Tapi setidaknya aku jadi tau, yang mana yang benar-benar teman sejati. Mereka juga tidak harus kita musuhi, melainkan menjadi hal yang bisa kita pelajari". 👍

    BalasHapus
  2. Ceritanya penuh dengan makna sesungguhnya dalam kehidupan .. bahwa semua orang pasti pernah berada pada titik terendah dan ingin menyerah tapi dengan kesabaran dan kerja keras semua bisa di lalui karena benar tuhan tidak akan menguji hambanya di luar batas kemampuannya.
    Dan untuk cinta benar adanya bahwa cinta itu untuk saling melengkapi dan saling menguatkan bukan untuk saling meninggalkan dikala salah satu dalam kesusahan.

    Suka sama ceritanya 👍😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. siapapun kamu. Terimakasih banyak. ini menjadi motivasiku untuk terus menulis. sekali lagi, terimakasih.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekilas Tatapan.

Jatuh Cinta Tidak Hanya Lewat Mata

Kebahagiaanmu, Penting untukku.