Semesta
Malam ini aku tidak tahu apa yang benar-benar kurasakan. Terlintas begitu saja. Begitu cepat, tanpa aba-aba.
Segala hal yang aku pikirkan sejak aku mengenalmu. Adalah aku ingin menjaga kamu sebaik mungkin. Menjaga kita agar tetap bersama. Lalu mempertahankan apa yang harus dipertahankan. Yaitu hubungan.
Kamu mungkin tahu, semesta begitu luasnya. Dan manusia begitu banyaknya. Akan tetapi Tuhan mengirim kamu untuk bisa bersamaku. Meskipun perpisahan sering sekali hampir terjadi. Namun aku yakin. Kamu akan tetap ada untuk aku. Jikapun memang kita berpisah, mungkin semesta tetap akan mendukung agar kita tetap baik-baik saja.
Aku jadi ingat. Ketika kita sedang berjalan berdua. Lalu kamu mengatakan.
"Matahari itu terik, panas, menjengkelkan. Tidak seperti bulan. Sejuk, indah, dan bercahaya. Tapi kamu tahu kan? cahaya itu dari mana." Aku hanya bisa terdiam menatapi senyum indah yang terlukis dari lekuk bibirmu. Memperhatikan raut wajahmu, mengelus anggun hitam rambutmu.
Seketika aku menggenggam tanganmu. Kamu berakata lagi bahwa. "Lalu bulan itu selalu indah dipandang. Bahkan nyaman sekali walaupun berlama-lama. Matahari? Melihat sekejap pun kamu akan berpaling pastinya."
Saat itu aku tidak mengerti sebenarnya apa yang kamu bicarakan.
Sekarang, setelah sekian lama. Dan setelah kamu tetap berada disampingku. Aku jadi tahu apa arti dari semua itu.
Kamu adalah matahari. Berguna tidak hanya untuk aku. Tapi untuk semua. Semua orang yang aku cintai. Bahkan untuk semesta ini. Kamu tetap ada, walaupun tidak seorangpun ingin melihatmu walau sekejap saja. Ketika malam datang. Ribuan manusia akan terpesona akan cantiknya bulan. Yang mana secara diam-diam, kamu meminjamkan cahaya kamu untuk membuat bulan terlihat indah.
Aku mengerti. Ketika cahayamu berguna untuk orang lain. Maka kamu adalah tujuan yang sebenarnya. Lalu, ketika semesta mendukung semuanya. Mungkin keadaan akan selalu berlangsung seperti yang seharusnya.
Seperti... Kamu dan aku. Yang mana kamu matahari itu. Lalu aku adalah bulan. Yang mana aku akan tetap setia menunggu kamu memberiku cahaya. Namun, aku juga akan sedia menjaga. Dan berkata bahwa cahayaku bukanlah warnaku. Karena sinar ini adalah bentuk kasih sayang dari seorang yang diam-diam selalu ada untukku.
Semesta akan selalu tahu. Kalau matahariku tidak akan pernah lelah menyinari bulan.
MuhammadSeptiaji.
Segala hal yang aku pikirkan sejak aku mengenalmu. Adalah aku ingin menjaga kamu sebaik mungkin. Menjaga kita agar tetap bersama. Lalu mempertahankan apa yang harus dipertahankan. Yaitu hubungan.
Kamu mungkin tahu, semesta begitu luasnya. Dan manusia begitu banyaknya. Akan tetapi Tuhan mengirim kamu untuk bisa bersamaku. Meskipun perpisahan sering sekali hampir terjadi. Namun aku yakin. Kamu akan tetap ada untuk aku. Jikapun memang kita berpisah, mungkin semesta tetap akan mendukung agar kita tetap baik-baik saja.
Aku jadi ingat. Ketika kita sedang berjalan berdua. Lalu kamu mengatakan.
"Matahari itu terik, panas, menjengkelkan. Tidak seperti bulan. Sejuk, indah, dan bercahaya. Tapi kamu tahu kan? cahaya itu dari mana." Aku hanya bisa terdiam menatapi senyum indah yang terlukis dari lekuk bibirmu. Memperhatikan raut wajahmu, mengelus anggun hitam rambutmu.
Seketika aku menggenggam tanganmu. Kamu berakata lagi bahwa. "Lalu bulan itu selalu indah dipandang. Bahkan nyaman sekali walaupun berlama-lama. Matahari? Melihat sekejap pun kamu akan berpaling pastinya."
Saat itu aku tidak mengerti sebenarnya apa yang kamu bicarakan.
Sekarang, setelah sekian lama. Dan setelah kamu tetap berada disampingku. Aku jadi tahu apa arti dari semua itu.
Kamu adalah matahari. Berguna tidak hanya untuk aku. Tapi untuk semua. Semua orang yang aku cintai. Bahkan untuk semesta ini. Kamu tetap ada, walaupun tidak seorangpun ingin melihatmu walau sekejap saja. Ketika malam datang. Ribuan manusia akan terpesona akan cantiknya bulan. Yang mana secara diam-diam, kamu meminjamkan cahaya kamu untuk membuat bulan terlihat indah.
Aku mengerti. Ketika cahayamu berguna untuk orang lain. Maka kamu adalah tujuan yang sebenarnya. Lalu, ketika semesta mendukung semuanya. Mungkin keadaan akan selalu berlangsung seperti yang seharusnya.
Seperti... Kamu dan aku. Yang mana kamu matahari itu. Lalu aku adalah bulan. Yang mana aku akan tetap setia menunggu kamu memberiku cahaya. Namun, aku juga akan sedia menjaga. Dan berkata bahwa cahayaku bukanlah warnaku. Karena sinar ini adalah bentuk kasih sayang dari seorang yang diam-diam selalu ada untukku.
Semesta akan selalu tahu. Kalau matahariku tidak akan pernah lelah menyinari bulan.
MuhammadSeptiaji.
Komentar
Posting Komentar