Semua yang pertama, adalah kau.



Aku duduk di sini, di tempat pertama kali kita bertemu. Aku masih ingat saat-saat indah bersamamu. Saat itu, Aku memegang tanganmu untuk yang pertama kalinya. Saat itu, aku memberanikan diri untuk mengucap kata cinta untuk yang pertama kalinya. Tetapi apa? kau membalasnya dengan luka  yang begitu menyakitkan untuk yang pertama kalinya, namun untuk selamanya.

Aku sadar, sekarang kau sudah jauh lebih bahagia dengannya. Manusia yang lebih bisa kau harapkan, manusia yang mungkin lebih sempurna. Aku sadar, aku tidak lebih dari seorang manusia yang bahagia akan kekurangan yang selalu kucoba sempurnakan. Wajar, sangat wajar jika kau lebih memilihnya. Aku tak pernah marah akan hal itu. Tidak pernah sekalipun aku ingin menyimpan dendam apalagi berharap kau merasakan rasa sakit yang aku alami. Tidak, tidak sekalipun. Aku selalu ingin kau bahagia. Meski aku tahu bahagiamu bukanlah bersamaku. Aku tak pernah menganggapmu hina, jahat, atau seorang berengsek sekalipun. Aku sadar aku tak lebih baik dari itu. Tetapi mengapa sampai saat ini hatiku tidak pernah bisa menerima bagaimana caramu pergi, caramu melukai, dan caramu mengkhianati.

Kesalahan mu begitu menusukku. Kau pergi saat aku sepenuhnya menaruh hati, kau pergi di saat aku serahkan semua kasih suci. Kau pergi, Meninggalkan luka di hati. Sendiri, aku selalu sendiri karena kau khianati. Kau pergi bersamanya dan mendustakan semua janji. Kau tahu? Aku melihat semua itu. Bayanganmu dan bayanganku seperti telah menyatu.

Aku memberanikan diri dan mencoba bersikap tenang di hadapanmu. Aku mencoba menghampirimu agar tidak terjadi kesalah pahaman antara kau dan aku. Tapi? Kau berkata sungguh kejam, kau berkata kau tidak mengenalku. Lalu kau mengajak pergi lelaki itu karena tidak ingin lama melihatku. Sejak saat itu, kau pergi dan tak pernah kembali. Pergi tanpa masalah tetapi meninggalkan sejuta luka. Kau pergi bersamanya tanpa memberiku alasan. Kau menghilang. Jauh dari pandangan. Dan jauh dari hati ini.


Sudahlah, kau teruskan saja kebahagiaanmu bersamanya. biarkan lah aku terluka di sini, dan mungkin akan terluka selamanya. Mengapa pula aku terus mengharapkanmu? Aku sudah cukup puas merasakan betapa pahitnya di tinggalkan, dan jatuh cinta sendirian. Tetapi memang kenyataannya semua itu adalah kau, kau yang pertama membuatku jatuh cinta. Kau yang pertama meninggalkan luka. Dan kau yang membuatku tetap ingin bertahan selamanya. Hati ini tidak terlalu berharap kau kembali ada, melihatmu bahagia bersamanya juga bagian dari bahagiaku. Karena memang Semua yang pertama, adalah kau.



Muhammadseptiaji

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekilas Tatapan.

Jatuh Cinta Tidak Hanya Lewat Mata

Kebahagiaanmu, Penting untukku.