Aku menyesal.
Alya,
aku merindukanmu. Kamu yang selalu ada di sampingku.
Mengajari aku banyak hal, membimbingku untuk menjadi seseorang yang lebih baik,
juga selalu memberiku semangat setiap harinya. Aku jadi ingat kembali saat kamu
memarahiku karena aku mencoba untuk merokok. Kamu mungkin marah sekali padaku. Meskipun aku sedikit
merasa risih karena hal itu, tapi hati kecilku sangat tersentuh karena ada seseorang yang masih begitu perduli padaku meski itu bukan keluargaku. Bahkan keluargaku saja jarang memperhatikanku.
Al, andai saja
saja kamu tahu. Kalau saat ini aku menyesal telah meninggalkan sahabat
sebaik dirimu. Aku menyesal telah mengabaikanmu demi kekasihku yang ternyata
mengkhianatiku. Aku menyesal akan perbuatanku yang malah membuat kita jauh. Dulu kita sering berjanji
untuk saling menjaga, saling memberi semangat dimana pun kita berada. Juga sejauh
apapun jarak memisahkan kita. Tapi maaf, aku mengecewakanmu dan melanggar janji
itu meski aku yang membuatnya.
Al,
aku rindu dengan senyumanmu disetiap pagiku. Bukan hanya rindu akan senyummu, tetapi lebih pada senyum diantara kita.
Karena kamu bagai bidadariku yang selalu tersenyum meski tersakiti olehku.
Hanya saja yang kurang adalah senyum dariku yang selalu merasa kaku jika bertemu
denganmu. Entah mengapa, tapi yang pasti karena rasa
bersalah. Aku rindu datang kerumahmu hanya untuk belajar dan memperbaiki nilai-nilaiku
yang tidak pernah diatas angka tujuh. Meski sebenarnya bukan itu tujuanku. Aku
datang hanya untuk membawakanmu sebungkus biskuit juga coklat hangat kesukaanmu
itu, agar bisa memberikan rasa bahagia dalam hatimu yang selalu kesepian karena
ditinggal ayahmu.
Al,
mungkin penyesalan ini sudah tidak ada artinya lagi. Aku menyesali segala perbuatanku. Andai saja
aku diberikan oleh Tuhan satu permintaan yang akan
dikabulkan. Pasti aku akan meminta waktuku diputar kembali. Karena pasti aku
masih akan bisa selalu bersamamu tanpa rasa kaku seperti sekarang ini. Tapi itu
semua mustahil dan hanya khayalanku semata.
Al, bagiku, kamu adalah satu pohon di pinggiran jalan. Iya satu pohon di pinggir
jalan yang mungkin selalu diabaikan tetapi tetap memberi kesejukkan untuk banyak orang. Kamu
tidak pernah berharap ataupun meminta kepada manusia untuk
dirawat, diberi pupuk atau sekedar diberi air. Kamu sering diabaikan dan bahkan
disakiti, tapi saat sekumpulan manusia kepanasan ataupun kehujanan. Engkaulah
tempat berteduh mereka. Dan kau memberikan kebaikan itu semua tanpa pamrih.
Saat
ini aku sedang melihat foto-foto kita berdua, Al. Aku baru menyadari betapa manis dan cantik
senyummu itu, padahal hampir setiap hari aku mendapatkan itu darimu, tapi aku
terlalu sering mengabaikanmu. Aku terlalu larut dalam ketidakpastian yang di
berikan dia. Dan aku semakin terbawa nafsu sampai lupa percaya pada hatiku,
Kalau sebenarnya yang aku cintai adalah dirimu.
Maafkan aku, Alya. Aku ingin kau kembali padaku. tetapi apakah mungkin? Al, aku menyesal.
MuhammadSeptiaji

Komentar
Posting Komentar