Hal yang Aku Sesali.
Entah mengapa aku merasa senang kalau kamu ada di sampingku, Aji.
Ya, setidaknya
aku bisa
mengajarimu banyak hal, berusaha membimbingmu untuk menjadi seseorang yang
lebih baik. Juga selalu memberimu semangat untuk menjalani hidup dengan terus
tersenyum. Seketika aku teringat saat dulu aku pernah memarahimu karena
kamu ingin mencoba untuk merokok. Saat itu aku sangat marah sekali. Buktinya
aku sampai menjambak rambutmu, bahkan menamparmu karena begitu
kesal.
“Aku nggak mau jadi teman kamu lagi, Aji. Kalau
kamu masih ikut-ikutan gerombolan laki-laki yang nggak berguna itu” Kataku kesal. Aku sedih kamu sudah mulai beranjak
dewasa, karena perlahan kamu mulai berubah dan mencoba mencari dunia yang
sebelumnya belum terjamah olehmu.
Aku sedikit heran, karena sekarang
kamu tidak pernah mendengar semua perkataanku lagi. Semua nasihatku, juga semua ocehanku
yang selalu mengingatkanmu ini itu. Tetapi lambat laun aku sadar, ternyata kamu
sedikit risih dengan keberadaanku yang sepertinya mengganggu kedekatanmu dengan
dia. Aku tahu kalau aku bukan keluargamu, tapi bukankah aku ini sahabat
terbaikmu? Sahabat yang ingin selalu melihat kamu merasa bahagia. Bukankah
wajar kalau aku berusaha menjagamu?
Setiap pagi aku selalu memberi
senyuman kepadamu, memberi semangat dan memotivasimu seolah-olah aku ini
motivator handal. Aku sedikit menertawai diriku sendiri karena sok menjadi
ibumu. Tetapi memang bawaan hatiku ini ingin membuatmu menjadi pribadi yang lebih
baik. Aku sering dibuat kesal olehmu, hingga berbusa mulutku ini menceramahimu
tapi kamu malah menertawaiku. Sungguh aneh, entah apa yang ada di otakmu itu. Saat
sore hari tiba setelah pulang sekolah, kamu selalu datang kerumahku. Hampir
setiap hari kamu membawakanku biskuit juga segelas coklat hangat kesukaanku,
berusaha untuk menyogokku agar aku mau mengajarimu mata pelajaran ini itu.
Tetapi sekarang semua itu menghilang,
kamu mengabaikanku seolah aku bukan temanmu bahkan seolah kamu tidak pernah
mengenal diriku. Aku merasa sedih, rindu, juga kecewa. Kamu bahagia bersamanya
dan meninggalkan sahabatmu ini dalam luka. Dulu aku tidak pernah percaya kalau
sahabat bisa jadi cinta, dan suatu saat akan bersama. Tapi sekarang aku seperti terjerat karma dan mengalami itu semua.
Karena harus aku akui kalau aku mencintainya saat ini.
Setiap pagi aku masih berusaha
memberikan senyuman ini untukmu meski tak akan ada pengaruhnya lagi dalam
hidupmu. Karena saat ini sudah ada senyuman lain yang bisa menghibur juga memberi
semangat pagi harimu. Setiap sore aku masih menunggumu didalam cemas sambil
berharap agar kamu datang ke rumahku. Bukan,bukan untuk sebungkus biskuit juga coklat hangat yang kamu berikan
padaku. Tetapi menunggu senyum juga semangatmu untuk belajar. Aku rindu wajah
cemberutmu yang kesal kutertawai karena nilai ulangan harianmu tidak pernah
diatas tujuh.
Tanpa sadar air mataku berlinang
membasahi pipiku, aku berusaha menyekanya. Tapi rinai air mata
ini malah semakin jatuh
dengan deras. Aku tidak menyesali apa yang sudah aku lakukan kepadamu selama
ini. Karena setidaknya, aku selalu berusaha untuk membuatmu
tersenyum meski saat ini mungkin kamu telah melupakanku. Dan bahkan meninggalkanku. Karena yang aku
sesali hanya satu, aku tidak pernah berani untuk mengatakan kepadamu kalau
perasaanku ini lebih dari sekedar sahabat. Tetapi sudah lebih
dari itu, Aji.
Tapi
bukankah aku ini perempuan, apa pantas mengutarakan cinta?
Alya.
Cerita ini adalah ungkapan Alya untuk Aji. Next, bakal ada lanjutannya. Terimakasih sudah membaca.
Muhammadseptiaji

Komentar
Posting Komentar