Wanita yang sama.
Ada sisi lain dari wanita itu yang tidak akan pernah terlupakan olehku. Pertama, Kehadirannya selalu tak terduga. Kedua, Dia hanya muncul ketika aku sedih dan membutuhkan seseorang untuk memberikan aku sedikit saran. Ketiga, Sinar matanya seolah memberikan tatapan kosong, tapi selalu ia coba sembunyikan dengan cara berbohong.
Sebenarnya aku mencoba mencari tau,
bahkan ingin mengenal siapa wanita itu. Yang hingga sekarang akupun tidak
pernah tau walau hanya sekedar namanya. Apalagi dimana ia tinggal, bagaimana
kehidupannya dan lain-lain aku sungguh tidak pernah tau.
Aku jadi ingat saat wanita itu menjelaskan
padaku kalau cinta tidak sepenuhnya dusta. Melainkan suatu perasaan yang
membuat bahagia. Ada satu kalimat darinya yang mungkin akan membuatku kembali
akan kata cinta. “Cinta itu ibarat langit. tidak selamanya biru yang membuat ia
terlihat cerah. Tidak selamanya jingga seperti senja yang membuatnya terlihat
indah. Tapi juga ada kelabu yang menghitam seperti perasaan yang sedang resah.”
Untaian kata-katanya sekejap saja membuatku tersentak hingga tak sengaja
menatap matanya pada saat itu.
Kedua bola mata kita pun seperti
sedang mulai berbicara, menceritakan semua penderitaan serta keluh kesah. Ada
satu hal yang aneh darinya, aku tidak bisa melihat jelas rupanya. Wajahnya begitu
putih ditambah senyuman manja. Meskipun wajahnya familiar, tapi kenapa aku
tidak juga mengingat siapa dia sebenarnya.
“Kamu siapa? Sepertinya kita pernah
kenal.” Tanyaku seusai menaburkan bunga di pemakaman mantan kekasihku.
“Ingat kata-kata aku ya. Aku udah
harus pulang.” Jawabnya yang langsung pergi begitu saja.
“Hei tunggu, Kamu mau kemana?”
teriakku sambil menatap lurus punggungnya dari belakang. Dia tidak juga
menjawab, terus berjalan dengan langkah semakin cepat hingga hilang dari
pandanganku di balik pepohonan.
Saat malam, aku terus memikirkannya
di kamarku. Wanita aneh yang selalu datang tiba-tiba. Pernah juga saat malam
hari aku sedang berdiam diri di taman. Dia menghampiriku dan langsung berbicara
dengan nada sedikit kecewa. “Jangan selalu merasa resah, Kamu tidak boleh
kelelahan. Besok kan kamu masih harus sekolah.” Ujarnya yang datang tiba-tiba.
“Kamu? Sedang apa kamu disini?”
kataku dan kamu hanya tersenyum langsung bergegas pergi. “Tunggu... kamu wanita
itu kan? Yang pernah datang saat aku menaburkan bunga? Aku ingin tau siapa
namamu.” Kamu hanya menoleh sebentar kebelakang, sambil tersnyum kembali. Aku pun
seperti terbujur kaku tanpa bisa mengejar atau menahan langkah kakimu yang
ingin beranjak pergi. Aku tetap diam saja diposisi seolah langkah kakiku telah
mati.
Wanita aneh itu membuatku tidak bisa
tidur. Aku selalu berpikir keras memikirkan siapa dia. Sosok wanita aneh yang
selalu hadir saat aku merana. Sampai akhirnya aku tertidur pulas.
Dalam mimpi, dia datang kembali. “Aji,
kamu gak perlu lagi membebani diri kamu dengan menjadi perindu setiaku. Ikhlaskan
aku untuk pergi, dan mencoba tenang disini. Aku hanya minta kamu selalu mendoakanku
saja. Tapi kehidupan kamu juga harus belanjut, tak boleh terhenti seperti
sekarang ini. Carilah kekasih hatimu, aku tidak mau kamu terbebani rasa
bersalah karena aku. Aku tidak akan marah, aku akan dukung sepenuhnya.’’
*BRUK!!!* aku terjatuh dari tempat
tidurku, aku langsung mencoba duduk dan bersandar di ranjang tidur. Mimpi itu
seketika membuat kepalaku pening. Entah itu
mimpi buruk atau mimpi indah. Aku benar-benar melihat wajahnya, wajah wanita
aneh yang baru kusadari sangat mirip kekasihku yang meninggal dunia dalam
dekapanku beberapa tahun lalu.
“Ya tuhan.’’ Ucapku menepuk dahi. Aku
baru tahu dan menyadari. Jawaban dari semua pertanyaanku selama ini hadir lewat
mimpi. Wanita yang selalu hadir dimana saja saat aku sedang merana, tidak lain
adalah dia. Kekasih hatiku yang sudah meninggal tapi selalu aku anggap ada,
karena aku tidak merelakan kepergiannya.
Mungkin ini pertanda, untuk aku
mengikhlaskan semuanya. Wanita aneh itu adalah wanita yang
sama, Sosok rindu yang selalu aku jaga dengan setia.
Ini salah satu jawaban dari cerita sebelumnya. Terimakasih sudah membaca,
Muhammadseptiaji.

Komentar
Posting Komentar